Bogor – Sukseskan agenda “Musyawarah Muslim Jabodetabek” MosqueLife mengadakan kemah jurnalistik di Curug Cilember, Jawa Barat, (6-7/6). Kemah yang mengangkat tema “Gemakan Ramadhan 1436 H dengan Pena dan Kamera” ini diikuti oleh 25 peserta dan diisi oleh lima orang narasumber.
Banyaknya informasi kurang baik yang beredar di masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi kerangka tarbiyah masyarakat islam. Masyarakat Islam menjadi lebih mengenal kejahatan, korupsi, dan kerusakan lain ketimbang hal yang lebih bermanfaat. Kurangnya ekspose terhadap kiprah-kiprah masjid Se-Jabodetabek menjadi latar belakang utama kemah ini diadakan.
“Dari pelatihan ini diharapkan mekarnya kegiatan-kegiatan fotografi jurnalistik yang secara aktif melakukan laporan jurnalistik tentang Kehidupan 1000 Masjid Se-Jabodetabek selama bulan Ramadhan 1436 H” ungkap Eko Budhi Suprasetiawan selaku ketua acara. Kehidupan masjid yang akan diekspose mencakup beberapa sudut pandang, diantaranya; Fasilitas masjid, kehidupan dhuafa, marbot, guru ngaji dan takmir yang mengelola masjid, peran pemuda dan tokoh pendidikan, serta infrastruktur di sekitar masjid.
Peserta kemah jurnalistik yang mayoritas berasal dari anggota seksi dokumentasi atau informasi di sebuah masjid, mahasiswa bidang kajian komunikasi massa, dan masyarakat umum yang tertarik terlibat dalam mempromosikan kegiatan-kegiatan masjid. Kemah yang berlangsung selama dua hari ini juga diharapkan bisa membantu peserta yang hendak mengembangkan diri dalam menjadi profesional maupunentrepreneur dalam pengembangan corporate website, news portal, dan e-commerceuntuk produk dan jasa.
Pemihan ruang terbuka sebagai lokasi kemah pun berdasarkan makna ketiga dari logo MosqueLife, yakni ingin mendekatkan muslim dengan alam. “Kegiatan pelatihan jurnalistik di alam terbuka jauh lebih seru daripada di dalam ruangan, selain suasananya yang sejuk dan nyaman, juga mempermudah kita menemukan ide-ide, pastinya melatih kita untuk mandiri” ujar Fatoni Saputra, Mahasiswa IPB.
Penulis novel Senda Irawan menjadi narasumber pertama yang menjelaskan bagaimana membuat reportase (peliputan) mengenai suatu objek atau peristiwa yang bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan, serta menggugah simpati atau empati pembaca, dengan nama lain membuat feature article.
Narasumber kedua adalah Malhadi, Pimpinan Redaksi Hidayatullah yang berbicara tentang urgensi jurnalistik dan media untuk ummat. “Jurnalistik adalah ilmu praktek, bukan ilmu teori. Ibaratnya, jika anda selesai membaca buku panduan berenang setebal apapun, tapi jika anda tidak menceburkan diri ke dalam air, sampai kapanpun anda tidak akan bisa berenang” tutur Malhadi yang juga mengisnpirasi peserta dengan cerita perjalanannya menjadi seorang jurnalis.
Materi ketiga diberikan oleh Direktur depoknews.com Setiawan Eko Nugroho yang berbagi pengalamannya tentang bagaimana membangun media online dari nol. Laporan jurnalistik perlu dilengkapi dengan gambar yang mewakili cerita dan juga menarik, maka dari itu, MosqueLife mendatangkan dua narasumber yang bergelut dalam bidang fotografi. Wiku Suryomurti seorang fotografer yang juga penulis buku ekonomi islam, dan Nurrahman Adiwijayanto selaku fotografer profesional memberikan pengetahuan tentang dasar fotografi jurnalistik yang sekaligus menjadi materi penutup.
“Acara kemah jurnalistik yang diadakan Mosquelife dapat menjadi contoh yang baik bagi para pemuda muslim Indonesia, dan ini menjadi deret harapan yang memberi inspirasi bagi setiap pemuda untuk melangkah ke depan membela agamanya dengan pena” ungkap Adritian sebagai salah satu peserta.

0 komentar:
Posting Komentar