Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Oktober 2015

Pahamilah Cinta

"Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika dia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman yang baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah dia menjadi pohon berbuah lebat dan lezat. Tapi jika bibit itu tumbuh di tanah yang kering, disiram dengan racun maksiat, dirawat dengan niat jelek, maka tumbuhlah dia menjadi pohon meranggas, berduri, berbuah pahit." (-Kakek Gurutta, Rindu, Tere Liye)
Salah satu dialog terbaik dari buku ini, terletak di bagian 48, halaman 495.
Share:

Rabu, 30 September 2015

SENJA



Aku selalu berpikir: apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Ia hadir sejenak membawa keindahan, maka kemudian pergi meyisakan ketiadaan.
Apakah senja ada, untuk sekedar menjadi metafora--bahwa di muka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa dalam setiap kata yang hadir selalu terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa pernah kita tahu persis waktunya?
Adakah yang tahu apa ang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?
Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.
Aku tak pernah tahu pasti apa ang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Satu hal yang aku tahu, darinya aku belajar bahwa perpisahan sedramatis apapun ia berlangsung---tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.
Sebab itu barangkali Jalaluddin Rumi menghibur mereka yang mengalami tragedi perpisahan lewat potongan sajaknya. 'Keterpisahan ini', kata Rumi, 'hanyalah tipu daya waktu'.

-Azhar Nurun Ala-
Share:

Jalan Cinta Para Pejuang

Di sana, ada cita dan tujuan, yang membuatmu menatap jauh ke depan.
Di kala malam begitu pekat dan mata sebaiknya dipejam saja.
Cintamu masih lincah melesat jauh melampaui ruang dan masa, kelananya menjejakkan mimpi-mimpi.
Lalu di sepertiga malam terakhir
Engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu, melanjutkan mimpi indah yang belum selesai.
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening.
Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja.
Dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati.
Teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang.
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman.
Walau duri merentas kaki,
Walau kerikil mencacah telapak,
Sampai engkau lelah, sampai engkau payah, sampai keringat dan darah tumpah.
Tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang.

Salim A. Fillah



Share: