Senin, 16 November 2015

Tertawan



Aku tertawan
Oleh sang hujan
Yang membuatku tak berkutik
Dan memaksaku untuk menghentikan langkah sejenak

Aku tak bisa menerjang hujan
Aku tak siap untuk basah kuyup karenanya
Tak ada yang dapat aku lakukan
Tak ada pilihan
Selain menunggumu lenyap dari pandangan

Aku tertawan
Kali ini bukan karena sang hujan
Tapi karena kamu
Yang datang seperti hujan
Tiba-tiba menawan
Membuatku berangan

Kuperlakukanmu seperti hujan
Hanya kupandangi
Tanpa berani ku larut di dalamnya
Dan tak punya nyali untuk berjalan beriringan

Aku takut kamu seperti hujan
Yang bisa datang dan pergi sesukanya
Sesaat membawa keindahan
Pelangi yang menghias awan

Aku tak ingin sakit karena hujan
Begitu pun dengan hadirnya dirimu
Aku tak ingin ada jejak ketidakpastian

Cepatlah berlalu
Jika kau datang hanya untuk menawanku dalam sekat yang kasat mata
Share:

Minggu, 08 November 2015

Gambar Yang Tak Sengaja Diabadikan






Lihatlah wahai saudariku...

🍃Di saat kita memiliki tujuan yang sama,
Maka kita akan menuju jalan yang sama,
Secara BERSAMA-SAMA pula.

🍃Di dalam perjalanan menuju tujuan kita, tak ada yang bisa menjamin bagaimana keadaan jalur yang akan kita lewati, entah itu lurus saja, berkelok, terjal, berlubang, dan lain-lain.

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan lurus dan berlubang, kita berjalan berdampingan, bergandengan tangan, sehingga kau dapat merasakan aman, dan kau merasa tak sendirian...

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan menanjak dan terjal, kita pun bersama, ada yang berada di depanmu, untuk menarikmu ketika kau ingin terjatuh, ada yang berada di belakangmu, untuk mendorongmu ketika kau mulai lelah, ada yang mengulurkan tangannya untuk mengajakmu kembali ketika kamu ingin menyerah.

Lihatlah wahai saudariku...
Begitu sederhananya kita, tapi sarat akan makna.

Tetaplah di sini...
Bersamaku,
Kita lalui jalan dakwah ini bersama,
Sesakit apapun itu...
Aku tak ingin ada yang tertinggal,
Aku tak ingin ada yang kalah,
Aku tak ingin ada yang menyerah,
Aku ingin kita tetap bersama dan utuh,
Sampai pada tujuan kita,
Dan sampai kita bertemu di surga-Nya nanti.

Aku menyayangi kalian karena Allah...
Share:

Selasa, 03 November 2015

Andai Mereka Bisa Memilih

Ketika langit menjadi atap
Ketika tanah menjadi alas
Ketika pagi menjadi lumbung rezeki
Ketika malam menjadi pengumpul asa
Ada sakit yang terpendam
Ada tawa yang kadang terlepas
Ada rindu yang menyayat
Ada takut yang menyergap
Adakah yang berani menanggung rasa sakit itu?
Adakah yang bisa membuatnya selalu tersenyum lepas?
Adakah yang mampu mengobati kerinduan yang tertahan?
Adakah yang mau menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja?
Andai mereka bisa memilih,
Untuk tidak berada di jalan
Andai mereka memilih,
Untuk tinggal di rumah megah
Andai mereka bisa memilih,
Untuk berada di dalam rasa aman
"Apakah mereka menyadari keberadaanku?"
"Apakah mereka peduli denganku?"
"Apakah mereka mau berbagi sedikit kebahagiaan untukku?"
"Jika sepatu kecil bertali terlalu mewah untukku, maka cukuplah sandal sebagai pelindung kakiku dari panasnya matahari."
"Jika jaket tebal terlalu mahal untukku, maka cukuplah sebuah sarung kecil sebagai temanku di kala hujan turun."
"Jika uang seratus ribu terlalu banyak untukku, maka cukuplah dua bungkus nasi untukku makan bersama ibu."
"Jika itu semua terasa sulit bagimu, maka cukuplah doa yang kau panjatkan untukku."

Masihkah kamu mengeluh?
Masihkah hatimu tak tergerak?
Jika mereka bisa memilih, maka mereka akan memilih untuk menjadi KAMU!
Share:

Kamis, 29 Oktober 2015

Cita-cita

"Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
-Ir. Soekarno

Mimpi...
Sangat erat kaitannya dengan cita-cita.
Hanya berbeda pada ruang lingkupnya saja, selama ini jika saya berbicara mengenai mimpi, pasti banyak pembahasannya, karena ruang lingkup mimpi itu global, kita bebas bermimpi apa saja, dalam hal apa saja, tidak akan ada yang melarang.

Jika bicara cita-cita, maka pembahasannya lebih spesifik, lebih kepada sesuatu yang akan kita jalani atau sama saja dengan "Kita di masa depan"

Saya termasuk orang yang berkeingintahuan besar, ya beda tipis sama kepo (anak zaman sekarang bilangnya begitu)
Saya suka bertanya kepada teman-teman saya tentang cita-cita mereka, berbagai macam jawaban saya dapatkan, mulai dari jadi polisi, tentara, ahli farmasi, pemain bola terkenal, teknisi pesawat, dan lain-lain.

Lalu saya mendapatkan cita-cita dengan jawaban terbanyak. Mau tahu apa cita-cita itu? Cita-cita itu adalah menjadi seorang GURU.
Rasa ingin tahu saya semakin besar, mulailah saya bertanya kembali kepada teman-teman saya yang ingin menjadi guru. Apa yang saya tanyakan? Ya, saya bertanya 'alasan' mereka mengapa mereka ingin menjadi guru. Karena bagi saya, setiap cita-cita yang ingin dicapai itu harus memiliki alasan yang kuat menyertainya. Alasan itu untuk apa? Untuk mengingatkan kembali tentang mengapa kita harus berusaha mewujudkan cita-cita itu, menjadi penyemangat ketika tekad mulai luntur, menjadi penarik ketika kita ingin keluar dari jalur perjuangan menuju cita-cita.

Mulailah saya bertanya kepada teman-teman saya, dan jawaban mereka pun beragam, bahkan ada yang membuat saya tersenyum sendiri...

Pertanyaan:
✋🏻Mengapa kamu ingin menjadi guru?

Jawaban
📣Si A: Karena saya suka dengan anak-anak.
📣Si B: Karena saya suka ngajar gitu, suka ngomong di depan orang juga.
📣Si C: Jadi guru enak, pulangnya gak terlalu sore hehe.
📣Si D: Salah satu cara awet muda hehe, kan ketemunya dengan yang lebih muda terus, otomatis semangatnya juga membara.
📣Si E: Gak pusing, karena gak selalu ngadepin komputer, enak pokoknya.
📣Si F: Kalau udah jadi PNS enak, gajinya banyak, terus mau kredit rumah juga gampang.
📣Si G: Kemungkinan di pecat/di PHK nya kecil, kan kalo kita gak bikin kasus, kita pensiun umur 65. Jadi bisa tenang kerjanya, beda sama yang kerja kontrak, ntar udah enak-enak kerja, tau-tau di PHK.

Banyak kan jawabannya? Hehe😊

Nah, saking saya suka kepoin orang (kepoinnya yang baik dan bermanfaat ya)
Akhirnya saya dikepoin balik sama salah satu teman saya, dia nanya gini: "Kalau kamu cita-citanya jadi apa?dan alasannya apa?

Skakmat!
Mau tidak mau saya harus jawab pertanyaannya....
Oke saya pun menjawab:

"Saya mau jadi seorang guru, karena ini....."
👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ
ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻭَﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﻭَﻟَﺪٍ
ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ
“Jika seseorang meninggal dunia,
maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara yaitu: sedekah
jariyah, ilmu yang dimanfaatkan,
atau do’a anak yang sholeh” (HR.
Muslim no. 1631)

Jika saya menjadi seorang guru, saya memberikan ilmu kepada murid saya, dan murid saya mengamalkan, dan murid saya mengajarkan lagi kepada orang lain, hingga ilmu itu bermanfaat, maka pahala akan terus mengalir meskipun raga dan ruh saya telah berpisah.

Saya ingin mempunyai bekal untuk akhirat nanti, dan saya ingin mempersiapkannya dari sekarang. Menyenangkan bukan? Mempunyai cita-cita yang jika kau menjalaninya dengan baik maka dapat mengalirkan pahala terus-menerus?

Dalam hidup, kita boleh mempunyai berbagai alasan tentang dunia, tapi pada hakikatnya itu hanya sementara, di akhirat kita akan kekal, maka sertakanlah alasan akhiratmu di setiap langkah, agar waktu yang kamu punya selama di dunia tidak berbuah kesia-siaan belaka.

Di dalam hidup ini, kamu tak bisa berkata: "Hidup mengalir aja kayak air."
Tapi tahukan kamu bahwa air selalu menuju ke tempat yang lebih rendah?

Dan janganlah berkata: "Rencana hidup?liat aja nanti."
Hari gini kamu gak punya rencana hidup? Ingat, sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik saja bisa mengalami kegagalan, lalu bagaimana yang tidak direncanakan sama sekali?

Pilih cita-citamu segera, rencanakan bagaimana hidupmu, bawa semua mimpi-mimpimu kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan biarlah Allah membimbingmu dalam mewujudkannya.

Semoga Bermanfaat😊

Ukhtukum,

Dwihanda Firdaus

Share:

Rabu, 28 Oktober 2015

Sebuah Teladan Nyata

KETIKA KAMU MENGUTAMAKAN ALLAH, MAKA LIHATLAH APA YANG ALLAH PERBUAT UNTUK HIDUPMU...

Hari ini cukup melelahkan, hingga membuat aku tertidur sejenak di dalam busway yang akan membawaku menuju halte transit seperti biasanya. Bapak penjaga pintu sudah siap siaga memberitahukan bahwa sebentar lagi busway akan sampai di halte transit, yaitu halte dukuh atas dua. Aku pun bergegas bangun dari tempat dudukku dan mempersiapkan diri untuk turun. Pintu busway pun terbuka, ku langkahkan keluar kaki kanan terlebih dahulu, disusul kaki kiri tak berapa lama.
Dengan langkah gontai aku menyusuri jembatan untuk berpindah halte. Di sepanjang jembatan aku melihat ke bawah banyak mobil yang berjejer rapi karena terjebak macet, riuh suara klakson kendaraan yang saling bersautan tak dapat dibendung, seakan mewakili suara sang pengemudi bahwa ingin segera sampai ke rumah. Terlepas dari kebisingan itu, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang bapak yang berada di sudut jembatan, yang saat aku melihatnya beliau sedang bersujud. Tepatnya bapak itu sedang sholat! Beliau letakkan tas kulitnya di dekat kepala, dan hanya beralaskan selembar koran yang beliau jadikan sebagai sajadah.

Aku tetap berjalan melewati bapak yang sedang sholat itu, hatiku bergumam "Masyaa Allah! Orang seperti apa yang sholat di jembatan seperti ini, pasti bukanlah orang sembarangan."
Kakiku terus melaju, tapi fikiranku masih tertinggal bersama seorang bapak yang sedang sholat di sana, berulang kali aku menoleh ke belakang, berharap aku bisa menyapa dan berbicara dengan bapak itu.

Allah punya rencana, antrean manusia yang ingin transit mengular hingga ke atas  jembatan, mau tidak mau aku harus hentikan langkahku dan masuk ke dalam barisan. Pandanganku lurus ke depan, berharap antrean ini segera maju dengan cepat, ku coba melihat layar handphoneku yang menyala, dan spontan aku melihat ke belakang, jreeenggg!!! Tepat di belakangku seorang bapak yang tadi sedang sholat di sudut jembatan, tidak ku sia-sia kan kesempatan ini, untuk memenuhi hasratku yang sedari tadi ingin menyapa beliau, langsung saja aku membuka percakapan...

"Tadi habis sholat isya pak? Kok sholat di jembatan gitu?"
"Iya de, ya namanya sudah adzan, harus segera sholat."
"Bapak wudhu di mana?"
"Saya sudah wudhu di kantor tadi, kalau sudah ada wudhu, mau sholat di manapun jadi, waktu saya sekolah di Amerika, dan ketika saya mau sholat, teman-teman saya yang non muslim yang tadinya duduk di bangku langsung mempersilahkan saya memakai bangkunya untuk dijadikan tempat sholat, karena kalau di lantai kotor."

Betapa senangnya aku bisa berbicara dengan beliau, aku terkagum dengan perkataannya tentang sholat tadi. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, semenjak bapak itu mengatakan Amerika, percakapan kami pun melebar...
Alhamdulillah antrean sedikit demi sedikit mulai melaju, sambil berjalan pelan, aku pun bertanya kembali...

"Amerika?S2 di sana? Memang dulu bapak S1 nya di mana?"
"Iya, saya S2 di sana, dulu saya S1 nya di FKUI."

Masyaa Allah, aku kembali mengucap kalimat itu dalam hati...
Ternyata bapak itu seorang dokter...
Tak berhenti di situ, aku dengan rasa penasaran yang tinggi pun bertanya kembali...

"Kalau di sana gimana cara tahu jadwal sholatnya pak?"
"Ya ada, misalnya subuh, subuh di sana itu jam 9 pagi, maghribnya jam 4 sore, jadi sudah tau."
"Oh gitu ya pak, bapak kuliah di Amerika beasiswa apa biaya sendiri?"
"Alhamdulillah, biaya sendiri..."
"Bapak kuliah Amerika apa itu cita-cita bapak?"
"Yaaa, banyak. cita-cita saya juga, keluarga juga, saya di Amerika 20 tahun, di Malaysia 6 tahun, di Australia 11 bulan."
"Hah? 20 tahun? Kalau begitu berarti bapak lulus S1 nya tahun berapa? Di 3 negara itu kuliah semua pak?"
"Saya lulus S1 tahun 1975, tidak semuanya untuk kuliah, jadi setelah lulus S1 saya mengajar di Malaysia, lalu ke Australia, baru saya kuliah S2 di Amerika."

Masyaa Allah, cerita bapak itu benar-benar menggetarkan hati saya, rasanya ingin menangis. Beliau tidak terlihat tua, wajahnya bersahaja, begitu pun cara bicaranya, kami terus berjalan pelan hingga sampai di pintu tempat kami transit, kebetulan kami menuju ke arah yang sama. Sejauh perbincangan kami, aku tidak menanyakan siapa namanya, dan kemana beliau akan pulang. Sambil menunggu busway kami datang, aku pun bertanya kembali...

"Jadi sekarang bapak ngajar aja di sini?"
"Iya, hmm...saya kasihan dengan dengan saudara-saudara kita yang di palestina sana, mereka membela kita, tapi sementara kita di sini tidak melakukan apa-apa, rata-rata yang meninggal di sana itu para hafidzh quran, di sana tak ada pengemis, walaupun mereka susah, tapi tidak mengemis, anak saya akan berangkat ke gaza dalam waktu dekat, dia dokter seperti saya, dia akan menjadi relawan di sana."
"Pak, kalau boleh tahu, apa sih rahasianya sampai bapak bisa seperti ini? Menjadi dokter lulusan universitas ternama dan melanjutkan kuliah luar negeri dengan biaya sendiri, bisa mengajar di luar negeri, anak bapak juga seorang dokter. Apa ada amalan-amalan khusus yang bapak kerjakan?"
"Tidak, kalau saya, dari dulu, pokoknya kalau sudah adzan saya langsung sholat, gak pake nunda. Mau di manapun."
"Oh jadi sholat tepat waktu ya pak?"
"Iya." Jawab bapak tersebut sambil tersenyum.

Masih banyak percakapan kami, tentang kondisi negara ini, tentang pemimpinnya dan lain-lain...

Tak terasa busway sudah tiba, kami dan penumpang lainnya saling berdesakan untuk masuk, bapak dokter itu berada di depanku, aku terjepit, di dalam hati aku berdoa: "Ya Allah, semoga aku tidak ketinggalan busway ini, aku masih ingin bicara dengan bapak tadi."

Alhamdulillah, aku dan bapak tersebut masih dalam satu busway, beliau di belakang daan aku di depan.
Busway pun melaju, mataku masih tertuju pada bapak itu, aku masih ingin bicara, masih ingin tahu...
Aku lupa menanyakan di mana bapak itu akan turun, aku benar-benar lupa...
Aku perhatikan terus bapak itu, berharap dia tidak turun terlebih dahulu, badannya yang tak terlalu tinggi mulai tertutup oleh penumpang lain, hingga aku hanya bisa melihat tangannya yang memegang tiang pegangan. Aku semakin gelisah, setiap busway berhenti di halte, aku selalu melihat keluar, apakah bapak itu sudah turun atau belum...
Alhamdulillah, bapak itu masih ada. Hingga busway berhenti di halte manggarai, akhirnya aku memberanikan diri menghampiri bapak itu, posisiku terjarak oleh dua orang penumpang lain, di padatnya penumpang dan berisiknya klakson kendaraan, aku pun bertanya kepada bapak itu:
"Pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?"
"
Lalu aku bergegas menyiapkan papan ketik di handphoneku

"Boleh..."

Lalu bapak itu menyebutkan nomor handphonenya, sempat aku mengulang beberapa kali karena suara bapak tersebut tersamar. Dan aku tunjukkan layar handphoneku kepada beliau untuk memastikan nomor yang aku masukkan adalah benar, dan bapak itu pun mengangguk.

Pada akhirnya aku beranikan diri bertanya siapa nama bapak itu, itu pun karena aku harus mengisi nama kontak di nomor yang tadi bapak itu sebutkan...

"Nama bapak siapa?"
"Dokter Fajri"

Setelah berterima kasih aku kembali ke posisi awal yang berada di depan. Aku simpan nomor bapak tersebut dan aku coba menelepon untuk kembali memastikan bahwa itu benar nomor beliau. Dan ternyata nomornya tidak aktif, betapa bingungnya aku, jangan-jangan aku salah mendengar, kalau nomornya salah bagaimana? Posisiku sudah berada jauh dari bapak dokter itu, tak mungkin aku kembali menerobos barisan penumpang yang padat ini. Aku coba kirim ucapan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته melalui sms, tetapi smsku tidak terkirim. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Dan....AHA! Aku bergegas menyegarkan kontak whatsappku, dalam benakku, pasti seorang dokter memakai whatsapp, pada saat itu aku berharap sang dokter memasang foto profil dirinya hingga aku bisa memastikan bahwa itu benar nomor Dr. Fajri.

Setelah menunggu sejenak, aku memasukkan nama 'Dr Fajri' di kolom pencarian kontak whatsapp.
Betapa senangnya aku, ternyata ada kontak whatsappnya, dengan segera aku buka foto profilnya, dan ternyata....BENAR! Ini nomor bapak dokter tersebut, terpampang jelas foto bapak dokter dengan seorang anak muda yang aku terka dia adalah putranya yang bergelar dokter pula, dia yang akan berangkat ke Gaza. Mereka terlihat sangat mirip.

Dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan, bisa membuktikan bahwa perkataan
"Inna sirron najah fil hayat, ihsanus shilah billahi 'azza wa jalla"
(Sesungguhnya rahasia kesuksesan dalam hidup adalah berhubungan baik dengan Allah 'azza wa jalla)

Dokter Fajri telah memberi teladan, beliau mempraktekkan apa yang beliau katakan, "ketika dengar adzan, ya langsung sholat, di manapun berada."
Beliau telah berwudhu dari kantornya, agar ketika adzan terdengar, beliau langsung bisa sholat, meskipun di sudut jembatan dan hanya beralaskan koran.

Dokter Fajri telah mengutamakan Allah, maka tak heran banyak kesuksesan di dalan hidupnya, hingga kesuksesan itu juga di dapat oleh anaknya.

Semoga kita semua bisa mengikuti jejak Dokter Fajri, yang mengutamakan Allah dari yang lain...beliau taat pada Allah, hingga Allah pun menyayangi dirinya.

Semoga bermanfaat😊

Jakarta, 28 Oktober 2015
Di sepanjang jembatan halte dukuh atas satu & di dalam busway
Pukul 19.15

Dwihanda Firdaus

Share:

Senin, 12 Oktober 2015

Hadirku Tak Utuh

Entah bagaimana diri ini
Aku pun tak bisa menilainya
Baik atau buruk
Aku tak tahu

Semakin hari semakin berat rasanya
Sesuatu yang di kala ia hadir membuatku menangis tersedu-sedu
Sesuatu yang semakin banyak terucap justru menjadi setumpuk beban di pundakku

Pujian...

Jangan,
Tolong jangan berikan beban itu lagi
Aku tak sanggup menanggungnya

Apa yang kau lihat selama ini hanyalah setitik kebaikan di antara setumpuk dosaku

Dosa yang aku perbuat di masa lalu
Dosa yang bahkan aku sendiri tak dapat menghitungnya

Tahukah dirimu?
Bahwa sesungguhnya kau telah menguji diri ini
Kau ucap sesuatu yang tak ada pada diriku
Sesuatu yang kau lihat hanya di permukaan saja
Sesuatu yang sesungguhnya penuh dengan kemunafikan

Aku masih belajar
Aku masih mengais
Aku masih merangkak menuju cahaya yang selama ini kau kira aku telah bersinar karenanya

Aku ingin menjadi pelangi, meskipun pelangi di awan mendung
Aku ingin menjadi matahari, meskipun matahari di tengah rintik hujan
Aku ingin menjadi angin, meskipun angin di dalam gersang
Aku ingin menjadi lilin, meskipun lilin di gelapnya malam

Hadirku tak utuh,
Bisakah kau melihat itu?

Share:

Minggu, 11 Oktober 2015

Mari Berbagi ^_^



Aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu
Skenario seperti apa yang dibuat oleh Allah untuk para hambaNya, yang aku ketahui hanyalah...Dia pasti memberikan yang terbaik pada akhirnya, entah bagaimana jalan yang akan ditempuh menuju hal terbaik itu. Apakah jalan itu lurus-lurus saja, atau kah jalan berliku nan berkerikil.

Hidup bagaikan sebuah koin, yang mempunyai dua sisi, sebagai manusia, kita tak bisa memilih diantara keduanya, justru kita akan mendapatkan keduanya, mau tak mau, dan itu pasti.

Ada miskin, ada kaya
Ada sakit, ada sehat
Ada ramah, ada amarah
Ada cinta, ada benci
Ada susah, ada senang
Ada tangis, ada bahagia

Aku terkagum ketika Allah menjadikan kita para manusia beraneka rupa, bukan dalam konteks fisik saja
Tapi di dalam banyak aspek kehidupan.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Kita akan mengerti sebuah pelajaran yang diberikan oleh guru karena perhatian kita tertuju padanya, dan berbahagialah bagi mereka yang mendapatkan ilmu dari guru-gurunya
Tapi sadarkah kita bahwa ada yang lebih memberikan pelajaran dan ilmu yang berlebih, Tak berwujud, tak bersuara, dia adalah KEHIDUPAN
Mungkin, jika pelajaran yang diajarkan oleh guru, semua orang dapat mengetahuinya
Tapi jika pelajaran itu diajarkan oleh kehidupan, hanya orang-orang yang mempunya kepekaan tinggi yang bisa menyadarinya.


Ada orang dengan tersenyum memasuki restoran mewah, memilih apapun yang mereka suka, tanpa berpikir berapa uang yang harus mereka keluarkan.
Tapi di sisi lain, ada orang berjuang mati-matian, memikul beban berat, untuk upah yang tak seberapa bahkan untuk bisa membeli sebungkus nasi dengan lauk seadanya dan harus dibagi beberapa.


Ada orang yang fisiknya sempurna, melangkah bebas kemana-mana
Tapi di sisi lain, ada orang kekurangan fisik, jangankan untuk berkelana, untuk berjalan saja setengah mati susahnya.


Ada yang masa kecilnya bahagia, mau apa tinggal minta, semuanya serba ada, biaya sekolah tak masalah, mau jajan tinggal ambil di mama, yang jam delapan saja sudah tertidur lelap di kasur dengan seprei doraemon dan nobita
Tapi di sisi lain, ada bocah-bocah yang tak punya kesempatan sama, mau sekolah mikir biaya, mau main tapi harus bantu orang tua, mau jajan ngamen dulu di jalan raya, jangankan seprei gambar doraemon nobita, kasur saja tak punya.


Ada yang kuliah di biayai orangtua, tak usah mikir bagaimana bayar uang semesternya
Tapi di sisi lain, ada orang yang menunda mimpinya hanya untuk mengumpulkan biaya.


Beberapa contoh ini bukan karena Allah tidak adil, tidak!
Tapi Allah ingin mengajarkan kita melalui kehidupan
Bahwa segala sesuatu itu harus disyukuri, sekecil apapun nikmat yang kita miliki dan jangan lupa berbagi kepada saudara-saudari.

Karena...

"Bila yang kita yakini adalah hidup soal mendapatkan dan memiliki, maka ketidakteraturan-lah yang akan terjadi, maka berbagi adalah cara untuk menciptakan harmoni menuju masyarakat yang madani." -am_hdc



Dwihanda Firdaus
Share:

Rabu, 07 Oktober 2015

Aneh-Aneh Saja

Hari ini aku memilih berangkat kerja lebih awal dari biasanya, karena melihat pengalaman kemarin, siang sedikit saja, kemacetan semakin merajalela, dan busway pun semakin sesak oleh orang-orang yang hendak mencari nafkah.

Untuk menuju halte busway, aku harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari rumahku. Saat ingin menyebrang, tiba-tiba lampu lalu lintas yang sedari tadi berwarna merah kini berganti menjadi hijau, itu menandakan bahwa kendaraan boleh melaju, dan aku pun menghentikan langkah sejenak dan melihat kendaraan-kendaraan itu berlalu.

Pak polisi dari sudut kanan dan kiri melambai-lambaikan tangan seraya mengatur lalu lintas. Setelah satu menit berlalu, aku menoleh ke arah kiri melihat seorang pengendara sepeda motor diberhentikan oleh pak polisi karena menerobos lampu merah yang menyala dengan jelasnya di seberang sana.

Pengendara motor itu pun melipir, entah kalimat apa yang diucapkan oleh pak polisi, suaranya terkalahkan oleh kebisingan knalpot kendaraan yang beriringan melaju, pengendara motor itu terlihat mengeluarkan STNK dari kantung celananya.

Setelah lama mengamati, semakin lama nada bicara pak polisi semakin tinggi, menurutku, itu bukan tegas, tapi marah-marah. Ah! Aku tak suka orang pemarah, dan ada satu pertanyaan yang dilontarkan oleh pak  polisi kepada pengendara sepeda motor tadi, sebuah pertanyaan yang retoris menurutku. Dia bertanya: "Kamu itu punya otak gak sih?"

Seketika itu hati kecilku seakan ingin membantu pengendara sepeda motor sedari tadi yang mungkin sudah kesal karena dimarahi, hatiku mengucap: "Aduh bapak, nanyanya yang aneh-aneh aja, setiap orang itu diberi otak oleh Tuhannya, sudah pasti mereka punya otak pak." 

Sayangnya nyaliku terlalu ciut untuk ungkapkan itu ke pak polisi hehe. Tak disadari, karena keasyikan melihat pak polisi tadi, orang-orang yang sebarisan denganku itu telah berada di sebrang sana, ah, aku tertinggal, aku segera mengambil langkah seribu karena takut lampu lalu lintas berwarna hijau lagi.
Share:

HUJAN

Hari ini ada sesuatu yang berbeda
Tidak seperti biasanya
Tidak ada tanda apa-apa
Tak diundang
Kau hadir begitu saja

Untuk daerah perkotaan mungkin hadirmu biasa saja, hanya sekedar memberi tambahan kesejukan, atau menahan para pekerja yang ingin pulang ke rumah. Tapi, untuk saudara-saudara kami yang dilanda kekeringan, kau bagai oase di gersangnya padang pasir. Kau juga membantu memadamkan sang jago merah yang melalap hutan di beberapa daerah sana. Kau juga membawa harapan bagi satu-dua bocah yang yang mencari rupiah dengan membawa payung menyediakan jasa.

Tak jarang, aku mendengar cacian untukmu.
Tak jarang pula aku mendengar rasa syukur yang terucap.
Ah! Namanya juga manusia, cara pandang mereka berbeda.

Kalau aku sendiri, aku suka jika kau datang.
Aku bisa berdoa meminta keberkahan beriringan dengan rintik-rintik dirimu, dan berharap dosa-dosaku pun berjatuhan seperti dirimu.

Jika memandangmu dari berbagai sisi, aku suka tersenyum sipu.
Kau datang bersama, dari tempat yang sama.
Akan tetapi, masing-masing darimu jatuh ke tempat yang berbeda.
Ada yang langsung ke tanah, ada yang berkumpul di sungai, ada yang hinggap di dedaunan.
Tapi, pada akhirnya bermuara bersama di luasnya laut.

Kamu lucu
Ceritamu seperti kami, para manusia.

Kami lahir dari rahim para ibu, tanpa sehelai kain pun.
Ketika kami dewasa, kami punya jalan hidup yang berbeda.
Tapi pada akhirnya,
Kami semua kembali kepada Sang Pencipta


Share:

Wahai Pagi



Wahai pagi,
Terima kasih kau mau datang kembali,
Menemui diri ini yang masih setia untuk sendiri

Wahai pagi,
Hadirmu telah menyadarkan diri
Dari mimpi dan angan semalam tadi

Wahai pagi,
Sesungguhnya kau telah menjadi saksi
Bahwa Allah selalu mencintai hambaNya ini
Terbukti,
Dengan adanya hembusan nafas yang ku tarik sejak tadi

Wahai pagi,
Semoga kau selalu mengawal hati
Untuk tetap mencintai sang Ilahi
Tak lupa bermuamalah dengan saudara-saudari
dan menyongsong perbaikan diri ke arah yang lebih baik lagi
Share: