Selasa, 06 Juni 2017

Kesadaran Yang Mengubah

Bismillah, this story based on my experience. InsyaAllah, useful for you that will/facing exams.

Cerita ini berawal ketika saya kelas tiga SMP, waktu itu lagi masa-masa pedalaman materi untuk menghadapi ujian nasional. Di jadwal, tertera kalo kami para siswa tingkat akhir akan menghadapi lima kali tryout ujian nasional. Awalnya, para siswa di kelompokkan berdasarkan nilai, (ada kelas A-E). Setelah pedalaman materi beberapa kali dalam sebulan yang diadakan sepulang sekolah, tryout pertama pun digelar, selang satu minggu akhirnya hasil tryout itu keluar.


Betapa kagetnya saya, ketika itu saya dapat nilai matematika 4,5. Pada saat itu, di dalam hati saya berkata: "Ini kan tryout, soal UN pasti gak jauh modelnya kayak begini, masa dapet 4,5 sih? Nanti UN nya gimana? Gak bisa dibiarin nih..."


Setelah semua nilai tryout kesatu keluar, ada empat mata pelajaran: Math, English, Bahasa, Science. Saya lihat nilainya, saya urutkan dari yang tertinggi sampai terendah, dan saya mendapatkan urutan: Bahasa-English-Science-Math. Dari situ saya sadar, bahwa kelemahan utama saya adalah di matematika.


Dari situ, saya mulai menyusun strategi untuk belajar lagi, terutama untuk dongkrak nilai math saya yang gak karuan itu. Di tengah aktivitas yang padat, dan banyak yang harus dipelajari, saya coba mengatur strategi agar bisa dapatkan hasil terbaik nanti. Ya, dari total jam belajar saya, saya mencoba membagi berdasarkan kemampuan saya, misal: jika saya punya waktu tiga jam belajar maka saya bagi untuk: Bahasa 30 menit, English 30 menit, Science 45 menit, dan Math 1,15 jam.


Jadi, pada waktu itu saya gak habisin semua waktu saya buat pelajarin semuanya, tapi saya fokuskan pada kelemahan saya, dan kekurangan-kekurangan lain. Ini berguna banget, jadi untuk mata pelajaran yang sekiranya udah lumayan bisa, sedikit aja jam belajarnya. Dengan strategi ini, saya berpikir bahwa: Kalo emang gak bisa bagus banget, paling ngga hasilnya insyaAllah seimbang semuanya, gak ada yang jomplang jelek. Karena kan udah lebihin waktu buat yang kurang, dan konsisten sama yang udah bagus.


Belajar dari kesalahan. Ya, strategi saya selanjutnya adalah belajar dari setiap soal yang saya ga bisa/susah. Jadi pas tryout saya suka tandain soalnya, atau tulis di note model soal kaya gimana, bagian mana yang ga bisa. Setelah ujian selesai, biasanya saya buka buku, nyari model soalnya, terus tanya ke guru atau teman yang bisa. Dari situ manfaatnya banyak, kalo dari guru saya dapet cara instan tapi ga nyalahin aturan, (saya emang type orang yang suka bikin cara sendiri hehe, ga struktural gitu)


Nah, pada tryout selanjutnya jadi saya udah tau gimana cara ngerjainnya. Terus, saya juga lebih suka ngerjain banyak model soal dari pada harus ngafal rumus, banyak kasus orang yang ngafal rumus, pas model soalnya dirubah dikit, eh blank. Akhirnya ga bisa jawab. Dari belajar model soal, ini kayak kita memahami gimana cari solusi dengan cepat,  jadi kalau liat soal begini, udah tau gimana jawabnya. Lebih efisien daripada ngafal rumus. Silahkan pelajari rumus, karena itu ibarat foundation nya (dasar). Tapi jangan terlalu banyak buang waktu di sana. Karena soal juga sering berubah, yang kadang membuat rumus/posisi rumus berubah.


Kan biasanya kalo buku UN ada paket-paketnya ya? Nah itu dikerjain, nanti bakal ketemu sama berbagai macam level soal, dari yang tingkat kesulitannya rendah, sedang, sampai tinggi.


Setelah tryout selanjutnya diadakan dan hasilnya keluar, ternyata ada peningkatan di nilai math saya (walaupun waktu itu cuma naik satu jadi 5,5) tapi tetap aja itu progress kan? Hehe. Saya pernah dikasih tau, kalo progress itu lebih baik yang meningkat bertahap daripada langsung curam naik, katanya pasti ada yang salah kalau begitu.


Singkat cerita, nilai tryout math kelima saya itu 7,5. Setelah itu UN kan, pas UN dan ngeliat soalnya agak kaget sih, di dalam hati ngomong begini: "Gue udah belajar sampai level yang sulit eh yang keluar beginian. .." (Btw, ini bukan berarti penyesalan karena udah belajar banyak tapi yang keluar mudah, di sini titik sangat bersyukur, kaget yang asik. Daripada belajar yang mudah tapi dapat yang susah, nah lho?)


Ingat sekali waktu itu saya ga bisa kerjain dua nomor, tentang bangun campuran hehe. Alhamdulillah, waktu itu kertas coretannya sempat saya tunjukkan ke guru matematika, selain biar bantu koreksi cepet (kan biasanya kepo tuh sama nilai hehe, kan nilai resminya lama) sebagai bukti juga kalo ngerjainnya only by my self, karena waktu itu banyak kecurangan.


Biidznillah, hasil tak pernah mengkhianati proses. Alhamdulillah, setelah dapat hasil resminya. Nilai ujian nasional matematika saya 9,5. Waktu itu ga percaya, sempat speechless beberapa menit di depan komputer. Kayak ngimpi. Kini, pelajaran yang nilainya dulu terbawah, telah menempati urutan paling atas di daftar nilai ujian saya. Alhamdulillah.


Begitu pentingnya menyadari kemampuan diri, karena dari sanalah kita paham bagaimana menata kemampuan, meningkatkan kekurangan, mempertahankan kelebihan, dan juga hal apa yang ingin kita fokuskan untuk menjadi keahlian kita. Dan ini bukan hal sepele, karena sangat berhubungan dengan masa depan kita kelak.


Semoga bermanfaat ya sobat, sekiranya jika ini bermanfaat, silahkan di share. Agar makin banyak teman-teman yang lain yang tau pentingnya menyadari kemampuan yang dimiliki. Jika menemukan kekurangan, mohon dimaafkan, kritik dan saran sangat terbuka untuk disampaikan.


Selamat berjuang, 

Jakarta, 06 Juni 2017.
@dwihandafirdaus
Share:

Kamis, 16 Maret 2017

Lika-Liku Berbakti



Siang itu nampak berbeda dari biasanya, rasanya matahari kian menyayangi bumi, suhu mendekati normal untuk wilayah Jakarta, tidak terlalu panas, tidak juga dingin. Jauh berbeda dengan kondisi hati Zahra saat ini, bak dirundung awan mendung, jika melihat raut wajahnya, pantas saja matahari enggan datang. Dia terpaku pada salah satu bangku halaman sekolah, tersisa dia sendiri, anak-anak lain telah berhamburan pulang menuju rumah dari satu jam yang lalu.

Zahra diliputi kebimbangan atas keputusan yang harus diambilnya segera. Saat ini Zahra kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Pikiran Zahra tak karuan, ditambah lagi dengan degup-degup jantung yang berdetak lebih cepat karena menanti pengumuman kelulusan.

Zahra termasuk anak yang pintar di kelasnya, bahkan dari semua murid, dia lah yang terbaik. Menjadi juara satu paralel ternyata tak membuat hatinya tenang dengan nilai ujian nasional nanti. Entah, kebiasaan buruk ini kapan akan menghilang. Ketidakjujuran. Teman-teman Zahra membeli kunci jawaban, dan yang ia tahu, kunci jawaban itu cocok dengan soal yang diujikan beberapa Minggu yang lalu. Berita sukses nya ujian mereka berkat kunci jawaban sudah menyebar kemana-mana, tak terkecuali, guru.

Zahra berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak mencontek, semua soal ujiannya dia kerjakan dengan kemampuannya sendiri. Dalam hatinya berkata: "Aku gak boleh mengkhianati orangtuaku dengan nilai palsu hasil ketidakjujuran, dan paling penting adalah Allah gak suka, Allah ngeliat aku, mereka mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan Tuhan Seluruh Alam."

Waktu merangkak sore, tak ada yang berubah dengan isi kepala Zahra, masih dengan keputusan yang harus dia ambil, dan tentang nilai ujian. Karena tak ingin pulang kemalaman, Zahra bangkit perlahan dan berjalan pulang menuju rumah. Di sepanjang jalan terus terngiang pesan ibunya, bahwa ketika lulus nanti, Zahra harus masuk Sekolah Menengah Kejuruan. Dengan harapan ketika lulus SMK, dia bisa langsung bekerja dan membantu ekonomi keluarga yang saat ini hanya dipikul oleh Ibunya seorang diri. Ayah Zahra telah menghadap Allah saat dia kelas satu SMP.

Hal ini sangat berbeda dengan keinginan hati Zahra. Dia ingin masuk SMA, agar bisa kuliah. Pemahaman orang-orang saat ini adalah SMA untuk kuliah, SMK untuk bekerja. Dengan kondisi ekonomi yang 'payah' seperti ini, Ibu Zahra berkata bahwa dia tak mampu jika harus membiayai kuliahnya anaknya itu. Meskipun Zahra telah berulang kali menjelaskan bahwa akan ada banyak beasiswa yang bisa dia raih, tapi tetap saja, sekali tidak tetap tidak. Zahra tak kuasa untuk meneruskan penjelasannya, dan setiap dia berbicara dengan Ibunya, keinginan Zahra selalu kalah.

Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang. Pengumuman kelulusan. Tak disangka, Zahra lulus dengan nilai rata-rata delapan koma tujuh, hal yang sangat disyukuri olehnya, karena Allah telah membantunya dan juga karena kerja kerasnya selama ini, terlebih untuk pelajaran matematika. Meski termasuk anak yang pintar, Zahra pernah mendapatkan nilai empat untuk tryout pertamanya. Tapi dia tidak menyerah. Zahra terus belajar hingga nilainya terus membaik dan menyentuh angka sembilan koma lima pada ujian nasional! Tak ada yang tak mungkin bagi Allah.

Singkat cerita, Zahra akhirnya mengikuti kemauan sang ibu untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan. Hati Zahra belum ikhlas sepenuhnya. Tapi satu hal yang dia sadari, bahwa ridha Allah adalah ridha orangtua. Maka ia ambil keputusan itu. Zahra bukan termasuk anak yang pintar kali ini, karena memang dia merasa bahwa "Aku melakukan ini untuk ibu..." Zahra tertinggal oleh yang lain. Ditambah Zahra harus kembali mengalami pengkhianatan oleh teman-temannya yang terobsesi pada nilai di selembar kertas. Ah, Zahra makin terasa 'lemah'

Waktu demi waktu bergulir, walau tak sepintar yang lain, tapi Zahra termasuk anak yang aktif di sekolahnya. Organisasi sekolah dan berbagai macam kegiatan dia ikuti. Membuat mental Zahra semakin terasah, tak hanya itu, Zahra banyak mendapat teman baru, dan yang paling penting, Zahra mendapatkan pintu hijrah utamanya di sini. Teman dekat Zahra bisa dihitung pakai jari, selebihnya hanya teman bertegur sapa. Tidak akrab.

Berbagai macam problematika dia hadapi di sini, tapi itu semua membuatnya semakin dewasa. Zahra Mempunyai pola pikir yang sedikit lebih maju dari yang lain. Dalam soal mencari nilai, Zahra tetap pada prinsipnya, jujur! Zahra sadar bahwa dirinya tertinggal oleh yang lain. Tapi Zahra selalu berusaha untuk mengejar mereka, meski tak sejajar, setidaknya tak tertinggal lebih jauh. Seringkali kebisingan yang diciptakan oleh teman-temannya membuat Zahra harus keluar kelas lalu menyendiri di bangku pelataran. Sambil membaca buku atau belajar materi-materi yang belum dipahami bersama sahabatnya.

Sebab hati yang belum ikhlas, Zahra sedikit sulit untuk menguasai pelajaran yang menjadi jurusannya. Hingga tiba pada detik-detik ujian. Zahra dihinggapi rasa takut yang teramat sangat. Takut tidak bisa menjawab soal dan menyelesaikan rangkaian ujian kejuruannya. Tetap pada prinsip jujur, Zahra belajar dengan keras agar nilainya kan baik, dia ingin membahagiakan ibunya. Sahabat Zahra sangat membantu, tak pernah lelah mendampingi Zahra di setiap sisi senang dan sulit, tapi lebih banyak dalam sulit, sungguh dia sahabat yang tak ada duanya!

Waktu ujian kelulusan semakin dekat, intensitas belajar Zahra ditambah! Dia pernah tak tidur dua hari hanya untuk menyelesaikan soal-soal yang kan menjadi gambaran ujian kejuruannya itu. Sementara itu, saat yang lain juga sibuk menyiapkan ilmu untuk tes masuk kuliah, Zahra tidak melakukannya. Dia menyadari bahwa itu kan sia-sia. Karena ibu tidak merestuinya untuk kuliah, ibu ingin Zahra bekerja selepas lulus, sebab itulah, Zahra tak ikut belajar persiapan untuk kuliah seperti yang lain.

Hari-hari ujian itu tiba. Zahra kerjakan dengan mengerahkan segala kemampuan yang ia miliki, menyandarkan apapun hasilnya nanti pada Sang Ilahi. Setelah semua ujian selesai, tibalah saatnya pengumuman kelulusan dan nilai untuk semua ujian. Allah tak pernah dusta, Zahra lulus dan mendapatkan hasil yang tak pernah ia sangka. Sungguh hatinya berkata: "Ini berkat Tuhanku, tak ada kekuatan yang lebih besar dari Allah Azza wa Jalla. Aku hanya berusaha semaksimal mungkin...Allah tak mungkin membiarkan seorang hamba terpuruk sementara dia berada di jalan-Nya."

Wisuda dilaksanakan setelah beberapa Minggu dari pengumuman kelulusan. Zahra tak terlalu memperdulikannya. Karena Zahra harus menyewa baju kebaya untuk di pakai di hari bahagia itu. Zahra amat sadar bahwa ibunya tak memiliki uang. Dia tak pernah memaksa. Rasa ingin hadir pasti ada, tapi ia tepis jauh-jauh agar ibunya tak bersedih karena tak bisa menyewakan baju untuknya. Hari wisuda itu Zahra lewati dengan membantu ibunya. Sesekali dia melihat ponsel untuk mengetahui kabar mengenai wisuda hari ini. Semua teman-teman nampak berbeda dari biasanya, lebih tampan dan cantik. Mereka sangat bahagia. Zahra lalu tersenyum bersamaan dengan tetesan air mata yang jatuh tanpa terasa.

Zahra resmi menyandang gelar alumni. Fokusnya kini hanya satu, segera mendapatkan pekerjaan untuk meringankan beban ibunya. Kali ini Zahra kembali diuji, berbagai macam tempat dia datangi, ada pekerjaan di sana. Tapi Zahra tidak bisa mengambilnya. Karena pekerjaan itu akan membuat dia membangkang atas perintah Tuhannya. Iya, tentang Hijab. Zahra berhijab syar'i. Kerudungnya menutup dada. Maka tak bisa dia bergabung dengan perusahaan yang tak mengizinkan berhijab. Bak angin segar, ada perusahaan yang memperbolehkan dia pakai jilbab, tapi harus pakai celana. Lagi-lagi Zahra kecewa, karena Zahra tak terbiasa dengan itu.

Setengah tahun Zahra tidak bekerja, keadaan ekonomi keluarga semakin melemah. Zahra makin tidak enak hati. Dalam penantian atas sebuah pekerjaan, Zahra selalu berdoa agar Allah memberikan pekerjaan untuknya yang tak menghalangi jika memakai hijab syar'i. Beberapa bulan kemudian Zahra mendapat jawaban atas doanya. Dia mendapat pekerjaan, tak ada larangan dalam berpakaian, tapi sayangnya Zahra kembali harus pergi. Tempat kerjanya melakukan kecurangan, yang bisa membahayakan posisi Zahra sebagai yang paling bertanggung jawab atas hal itu, dan yang paling penting, Zahra tak ingin menanggung dosanya. Empat bulan di sana, Zahra mengundurkan diri.

Ibu Zahra menyesali tindakan yang Zahra lakukan, karena sang Ibu tahu, dengan berhentinya Zahra dari pekerjaannya, membuat keluarga mereka kembali kehilangan bantuan penghasilan. Zahra mencoba menjelaskan mesti hatinya begitu sedih, dia berusaha meyakini ibunya bahwa Allah kan mengganti dengan yang lebih baik. Zahra terus berusaha. Tapi belum jua dia temukan pekerjaan yang baru. Tanpa terasa ini tahun kedua kesempatan Zahra untuk ikut tes perguruan tinggi negeri, banyak di antara temannya yang bertanya: "Ra, tahun ini kamu ikut tes kan?" Sungguh pertanyaan macam itu semakin membuat hati Zahra sakit. Tapi dia balas dengan senyum dan berkata "In syaa Allah."

Jika Allah mengizinkan. Takdir dan pilihannya membawa Zahra meninggalkan kesempatan keduanya itu. Rasa ingin berkuliah di kampus negeri masih ada, tapi sungguh rasa bakti dan pencarian Ridha ibunya jauh melebihi segalanya. Zahra kembali bekerja. Kali ini sebagai pengajar murid di sebuah lembaga bimbingan belajar. Zahra bahagia, tak ada larangan apapun di sana. Justru teman-teman Zahra banyak yang seperti dirinya. Menjadi seorang guru memang cita-cita Zahra yang sesungguhnya. Karena dari ilmu, kebaikan kan terus mengalir meski dirinya telah tiada. Itu pemikiran Zahra. Cukup lama Zahra berada di sana.

Tak terasa waktu telah berpijak di tahun ketiga. Tahun terakhir bagi Zahra untuk bisa mengikuti tes kuliah. Dari jauh hari, Zahra telah memikirkan hal ini. Dia merenung dan berpikir. Dalam renungnya dia menangis, dua tahun di kubur dalam dalam, keinginan itu masih saja ada. Dia menarik nafas, berdoa untuk meminta yang terbaik kepada Allah. Keesokan harinya Zahra seperti mendapat jawaban. Zahra memutuskan untuk tidak berkuliah di kampus negeri. Dia memilih jalan lain. Kuliah sore menjadi pilihannya. Sehingga dia bisa berbakti kepada Ibunya, sekaligus mengejar mimpinya itu.

Hari ini Zahra telah ikhlas sepenuhnya untuk melepas keinginannya itu. Baginya, mimpinya tak pernah pupus. Hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Zahra tersenyum, kali ini dia begitu yakin. Salah satu sebabnya adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah, "...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Benar saja, Zahra kembali ditanya apakah dia akan ikut tes terakhirnya tahun ini. Zahra tersenyum dan menjawab dengan hati yang mantap "Tidak." Teman Zahra menyambung, "Lho, kenapa gak jadi? dan inilah jawaban Zahra:

Bekerja adalah salah satu bakti saya kepada orangtua. Jika saya ambil negeri, berarti bakti saya berkurang selama 4 tahun, dan akan menyusahkan, dan saya gak pernah tau umur saya sampe mana...atau orangtua saya sampe mana umurnya. Bukankah sungguh menyesal seorang anak ketika orangtuanya masih hidup tapi ia tak dapatkan surga dari baktinya? Di dalam Al Qur'an, Allah menempatkan bakti kepada orangtua setelah menyembah Allah dan bersyukur kepada Allah... Jadi in syaa Allah ini kan jauh lebih baik dan in syaa Allah yang terbaik😊.

Share:

Rabu, 15 Maret 2017

Sepintas Saja

Melupakan,
Eratkah ia dengan pergi?
Mengingat,
Takutkah ia dengan hilang?

Rindu menggali memori
Kenangan mengawang lagi
Tercipta pintasan kilat
Pertanda figur berkata singkat

Mimpi tentang gerbang suci
Kini nyata tuk dipijaki
Pemilik langit yang tak dusta
Bagi yang tertatih dalam juangnya

Air mata tak terdefinisi
Berlawan pada senyum
Atau berkawan pada hati
Kini, ia pandai menipu diri

Benarlah doa senjata utama
Baginya yang selalu percaya
Tak pernah membeda insan
Pendosa ikut ambil bagian

Bom waktu terpasang
Bukan untuk menghancurkan
Hanya untuk beri kabar
Kapan harus ucap selamat jalan

Dhf, 15317. 22.58.
Share:

Senin, 30 Januari 2017

Jangan Pernah Berubah

Waktu bergulir cepat tanpa permisi. Meninggalkan bekas ingatan atas setiap kenangan. Kisah yang kini tak seindah dulu memaksaku untuk membawa ingatanku kembali kepada hampir setengah dekade lalu.

Pada masa itu, ku miliki banyak teman, yang ku anggap 'sejalan' denganku. Beberapa bocah yang mencoba taat kepada Rabb semesta alam, meski belum sempurna, hingga tertatih, tapi tidak berhenti.

Pedih dikhianati oleh bermacam orang yang terambisi mendapatkan nilai tinggi hanya pada selembar kertas. Bak diasingi karena berbeda haluan, anak kandung yang dianak tirikan, dan setiap jengkal ujian yang kita telah lalui tanpa meninggalkan.

Masih teringat jelas masa-masa putih itu. Masa di mana aku mengagumi semua elok rupa dan perangaimu. Ada yang pernah ku jadikan jadikan guru atas lemahnya ilmu akademik yang aku miliki, ada yang pernah ku jadikan partner dalam setiap lomba islami, ada yang pernah menjadi sandaran atas lemahku menahan tangis.

Ketika masa remaja itu telah pergi secara resmi. Tak ada lagi seragam yang bisa ku kenakan setiap hari sekolah. Kami yang terbiasa bersama perlahan menjauh karena kesibukan diri pribadi. Mungkin lebih tepatnya, sibuk untuk mewujudkan mimpi.

Denting waktu terus bergulir, sejenak ku palingkan wajahku dari hiruk pikuk dunia nyata yang aku jalani. Aku mencoba menoleh kepada mereka yang dahulu bersama ku, hingga kini meski tak semuanya, tapi ada yang berubah, tak sama lagi.

Aku merindukan mereka yang sendiri dalam taat nya. Mereka yang sangat menjaga. Aku merindukan lantunan ayat indah yang juga kau amalkan dalam kehidupan. Tak hanya itu, aku pun merindukan saat kita berlomba mendapatkan hadiah. Entah aku lupa apa itu. Aku merindukan raut wajahmu saat takut karena hijabmu terlalu pendek. Aku merindukan semuanya wahai kamu yang telah menjadi seperti saudaraku.

Pada hari ini ku lihat kebiasaan yang berbeda, seperti bukan kamu. Ku lihat kini kamu bersama seorang hawa yang belum menjadi kekasih halalmu. Ku lihat kini kamu bersama seorang adam yang datang dari masa lalumu. Kini tak lagi ku lihat hijab panjang itu. Kini tak lagi ku lihat ada bros warna warni di dekat pundakmu. Semuanya telah berubah.

Ke mana kamu pergi? Tidak rindukah dirimu untuk pulang? Aku takut Allah marah kepadamu. Aku takut Allah mengunci hatimu dari kebenaran yang telah ditutupi oleh syaitan melalui hawa nafsumu itu.

Jikalau aku menyampaikan kebenaran kepadamu, apakah kamu akan membenciku? Karena yang akan aku katakan ini akan menjauhkanmu dari dia yang kamu cintai. Karena yang akan aku katakan ini akan membuatmu menggunakan kain menjulur dan bros cantik itu lagi. Semua yang akan ku sampaikan pasti mengusik rasa nyamanmu. Maukah kamu mendengarkan ku?

Kamu pasti tahu bahwa aku bukanlah orang baik, aku hanya orang yang dahulu bersamamu menapaki jalan menuju terang. Tapi kamu meninggalkanku dengan berbalik arah ataupun pergi ke arah yang lain. Aku masih di sini, menunggu kamu kembali, untuk melanjutkan perjalanan kita, jalan yang penuh suka dan duka tapi kita telah terbiasa dengannya.

Bukan! Ini bukan salahmu sepenuhnya! Ini juga salahku. Aku yang mungkin terlalu asik berjalan hingga aku tak sadar dengan kamu yang tertinggal. Kamu yang lelah, yang tak ku semangati. Kamu yang menyerah tanpa ku pernah ajak tuk bangun kembali.

Mungkin saja namamu pernah luput dari deretan doaku. Hingga aku lupa meminta kepada Sang Pemilik hati tuk membuka dan tetapkan hatimu dalam kebenaran dan kebaikan. Mungkin saja aku pernah hanya menasehati tapi tak memberikan teladan. Mungkin saja aku menginginkan kamu kembali, tapi tak berusaha membuka pintu komunikasi.

Kini, maukah kamu kembali dan bersamaku menapaki jalan terang itu lagi?

posted from Bloggeroid

Share:

Selasa, 20 Desember 2016

Pelitku Untuk Baikmu


Saya pelit like? Iya. Jujur, saya jarang sekali untuk like postingan orang. Terlebih-lebih yang menurut saya itu aneh dan tak memberikan manfaat. Untuk foto perempuan yang selfie/berekspresi aneh, tak ada niat untuk like. Kenapa? Pertama, saya gamau mereka ngira bahwa saya mendukung tindakan dia untuk menampilkan kecantikannya. Tidak, saya berpikir bahwa wanita harus menyembunyikan keindahannya hanya untuk suaminya. (Saya pun masih berdoa dan berusaha untuk diri saya dan teman2 untuk istiqomah tidak posting foto pribadi). Itung2 membantu para ikhwan menundukan pandangannya.
.
Kedua, jika saya like, saya akan membantu menyebarkan foto kalian secara tidak langsung, karena apabila kalian lihat di menu explore, di sana akan tampil postingan-postingan based on people you follow or based on likes. Di notif pribadi pun akan terlihat saya like foto siapa aja, dari situ follower saya bisa open your instagram, and then they can see your photos.
.
Saya pernah mendengar langsung seorang laki-laki tepat di samping saya berbicara dengan temannya tentang wanita di sebrang jalan yang menggunakan baju ketat, dia bayangkan dan deskripsikan tubuhnya. Astaghfirullah... Masihkah kita berpikir bahwa hijab merupakan pembatas kebebasan? Hijab syar'i justru melindungi kita.
.
Ini tentang kebiasaan. Kalau kita terbiasa upload foto, maka terus-terusan. Cobalah menahan, ganti fotonya dengan yang lebih bermanfaat. Lama kelamaan, ketika kita mau posting foto kita, maka akan merasa aneh, ngerasa malu, takut diliat orang.
.
Dengan hijab, biasakan diri kita olehnya. Biasakan saja dulu. Lama kelamaan, diri kita akan menyesuaikan, bila sudah terbiasa, maka kita akan merasakan betapa takutnya apabila aurat terlihat oleh yang bukan mahram.
.
Ku telah rasakan teriknya matahari membakar kulitku, dan ku rasakan dingin yang menusuk, percayalah, hijab akan melindungi dari semua itu, bahkan kamu akan merasa aman meski tak ada seorangpun bersamamu. Itulah penjagaan dari Allah.
.
Mari menjadi lebih baik, betapa aku mencintai mu wahai saudari-saudariku. Tulisan ini bukan tanda aku lebih baik darimu, karena Islam bukan tentang itu, tapi maukah kamu ku tunjukkan jalan dan sesuatu yang kan membuatmu lebih baik? Maka ikutilah Islam secara kaffah (menyeluruh).
.
Dariku yang ingin ke surga bersamamu.
@dwihandafirdaus

posted from Bloggeroid

Share:

Minggu, 13 November 2016

Suriah: Duka Sedalam Cinta



"Ini negeriku, ini rumahku, di sinilah aku tinggal, jadi aku tak kan pergi."

Itulah jawaban dari seorang temanku yang berada di suriah sana, sebuah bumi yang di rahmati Allah.

Sebelumnya aku bertanya kepada dia "Mengapa kamu tidak mengungsi ke Turki seperti yang lainnya? Di sana in syaa Allah hidupmu akan lebih aman dan mudah."

Tapi bisa kau lihat sendiri apa jawaban yang dia utarakan. Apa yang menyebabkan orang bertahan meski dia rasakan sakit, terluka, bahkan harus pertaruhkan nyawa? Aku rasa jawabannya hanya satu: cinta.

Cintanya begitu besar kepada agama Allah, kepada tanah kelahirannya, tak pernah rela untuk serahkan kepada musuh, apalagi menyerah! tak akan!

Ku pertegas lagi pertanyaanku kepadanya: "Meski kau harus kembali berperang, pertaruhkan nyawamu di sini, kau kan tetap bertahan?" Lalu tanpa basa basi ia menjawab: "Ya! Aku akan tetap di sini."

Betapa malu dan luluh hatiku mendengar jawaban darinya, begitu dalam luka yang ia rasakan, kehilangan segalanya, tapi tak mengurangi sedikitpun cinta nya untuk tetap berada di sini, perjuangkan dan menegakkan sesuatu yang ia yakini kan menang! Islam kan berjaya!

Kau tahu? Bagaimana iri nya aku denganmu? Allah berikanmu kesempatan secara langsung untuk membela agama-Nya, cara yang tak sebanding dengan apa yang pernah aku lakukan, aku: tak ada apa-apanya.

Kau ajarkan aku tentang cinta yang sesungguhnya, yang selama ini ku pahami hanya teori belaka, sungguh aku merasa cinta yang ku ucapkan untuk agama ini seperti hanya janji tanpa bukti, pemahaman tanpa tindakan.

Allah punya maksud atas setiap kejadian, termasuk memilihmu berada di sana, dan aku berada di sini. Tentang lemahnya imanku, kemungkaran yang baru bisa ku cegah dengan doa, itu pun tak seberapa.

Wahai kamu saudara seimanku, terimakasih untuk menjadi sahabat sekaligus pelajaran berharga. Semoga kami bisa menjadi muslim yang lebih baik, yang punya cinta nyata, membela apa yang seharusnya dibela, meski nyawa taruhannya, jihad di jalan-Nya, hingga kelak Allah hadiahkan surga.

Jakarta, 12 November 2016
@dwihandafirdaus

posted from Bloggeroid

Share:

Jumat, 11 November 2016

Teman: Mau yang ori apa KW?

Suatu hari saya bertemu seorang yang bercerita tentang kesedihannya dalam memiliki teman, ia bercerita mengapa temannya dalam kebaikan sangatlah sedikit, dan susah dapat teman yang mau bersama atau diajak dalam kebaikan. Bisa dibilang berbeda dengan seorang yang bergelut dalam keburukan, temannya banyak, tanpa dicari atau diajak, teman datang dengan sendirinya.

Ah, ternyata aku pun merasakan apa yang ia rasakan. Sedikit teman di jalan kebaikan, dianggap tak asik, kuno, tidak gaul, dijauhi karena merasa merasa kita tidak satu tujuan dengan mereka: menikmati masa muda dengan 'cara yang telah dianggap wajar'.

Tapi aku tak ingin menambah kesedihan temanku, aku takut jika ia berputus asa maka akan mencoba melebur dengan -mereka yang punya banyak teman-, maka semua kesedihan dalam berteman ku simpan rapat-rapat, hanya hatiku yang bicara, tidak mulutku, semoga dia tidak mendengarnya.

Masalah yang dihadapi kami sama, tapi pada situasi ini kami berada pada posisi berbeda, aku sebagai tempat aduan, dan dia sebagai pengadu. Mau tak mau aku harus menenangkan dia dengan memberikan sedikit 'obat penghibur' yang dulu pernah aku gunakan saat mengalami hal yang sama, meski hingga kini kesedihan itu masih sedikit membekas.

Maka ku coba mengajaknya berpikir dengan contoh sederhana, agar nasihat yang ku coba bungkus dengan analogi ini bisa dipahami olehnya, tanpa merasa sedang digurui.

Aku: "Kamu pernah dengar istilah ori dan KW gak kalo mau beli barang? Kalau pernah, apa bedanya?"

Temanku: "Pernah, ori itu yang asli gitukan, kalau KW yang palsunya. Hmm biasanya yang ori itu lebih mahal, kalo KW lebih murah. Barang KW lebih banyak yang beli juga daripada yang ori."

Aku: "Nah betul. Yang ori itu kualitasnya nomor satu, yang KW kualitasnya kesekian. Lalu menurut kamu apa yang bikin barang KW itu lebih banyak pembelinya daripada yang ori? Selain dari segi harganya..."

Temanku: "Hmm apa ya, mungkin karena kalo yang ori jarang ada gitu, kan biasanya adanya di toko resminya daerah swalayan gitu, kalo yang KW di pasar juga ada."

Aku: "Kamu pernah beli barang KW? Aku pernah dulu beli sepatu KW, baru dua minggu pakai udah rusak. Akhirnya gak bisa dipakai lagi deh..."

Temanku: "Iya pernah. Yang KW cepet rusaknya, gak awet kayak yang ori..."

Aku: "Nah, yang ori itu ibarat teman-teman dalam kebaikanmu sekarang, memang mendapatkan orang seperti mereka itu sulit. Kebaikan yang kamu jalani memang sedikit peminatnya, tapi In syaa Allah, kalian akan tetap bersama meski raga sudah tak lagi menapaki bumi, persahabatan dalam taqwa akan kekal hingga ke Surga.

Temanku: " *diam dengan air mata yang siap tumpah ke pipinya* "

Aku: "Jadi kamu jangan heran kalau mereka yang berada di dalam keburukan lebih banyak temannya, selama yang mereka kerjakan diluar ketaqwaan kepada Allah, mereka bersama hanya sebatas di dunia, bahkan di perjalanan dunia banyak yang sudah terpisah, saling bermusuhan..."

Temanku: " *memelukku dengan erat sambil menangis* "

Aku: "Jadi jangan bersedih lagi ya... Semangat di jalan Allah!"

Temanku: " *menatapku dan mengucapkan terimakasih dengan senyum simpul di wajahnya* "

Aku: "Istiqomahkan kami di jalanmu Ya Allah.. *berbicara dalam hati sambil melempar senyum kepadanya* "

posted from Bloggeroid

Share:

Selasa, 08 November 2016

Surat Cinta untuk Sahabat

Saat kau jalin persahabatan, di saat itu pula kau telah memutuskan untuk memahami segala perbedaan, menerima segala kekurangan, bersyukur untuk segala kelebihan, berlapang dada untuk setiap kesalahan, menolong untuk setiap kesusahan, berbagi untuk setiap kebahagiaan, bersabar untuk setiap amarah, mengubur segala ego dalam-dalam.

Saat kau jalin persahabatan, yang kau inginkan hanya berbagi kebahagiaan, meski sedih seringkali kau rasakan, semua itu tak ingin kau tampakkan.

Saat kau jalin persahabatan, di saat itu pula kau berusaha agar hal baik yang kau miliki juga dimiliki oleh sahabatmu.

Saat kau jalin persahabatan, di saat itu pula kau berusaha sekuat tenaga mengusir sifat-sifat burukmu, agar sahabatmu tidak tersakiti.

Saat kau jalin persahabatan, maka kau akan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Terus seperti itu, hingga kau dan aku dapat terus bersama meski raga tak lagi menapaki dunia.

posted from Bloggeroid

Share:

Senin, 07 November 2016

Resume Kajian Masuk Surga Sekeluarga bersama Ust. Bachtiar Nasir

Penyebab perceraian yang utama itu bukan karena talaq, tapi khuluq. Khuluq adalah keinginan perempuan/istri yang minta dilepas karena laki-laki/suami gagal menjadi suami dan ayah.

Kesalahan terbesar suami:
1. Egois
2. Pelit

Kesalahan istri menurut suami:
1. Boros
2. Cerewet

"Buat para istri, kalo mau belanja makanya sambil dzikir, jadi gak khilaf apaan aja dibeli, jadi tau apa yang sebenernya diperlukan."

"Perempuan itu gak cerewet, tapi dia memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi dari laki-laki, jika laki-laki bicara 7000 kata, maka perempuan 3x lipatnya."

Tiga hal yang dibutuhkan istri:
1. Disayang
2. Diperhatikan
3. Uang

"Kalau kita masing-masing berusaha menjadi shalih, maka tidak akan ada percekcokan."

"Suami boleh menasehati, tapi tidak boleh memukul."

Apa yang harus dilakukan saat istri marah?
1. Diam (jangan dibantah/dipotong omongannya, biarkan istri menyampaikan apa yang ada di perasaannya) kalo masih marah juga:
2. Minta maaf, kalo masih marah juga:
3. Mengakui kalau kita khilaf (dengan sungguh-sungguh)

Perlakukan istri seperti cara Rasulullah:
1. Dipuji.
2. Panggil dengan panggilan yang baik.

Kamu harus jadikan rumahmu sebagai:
1. Rumah Ilmu.
2. Rumah Ibadah.
3. Rumah Ketenangan.
4. Rumah Perlindungan Sosial.

Didik anakmu menjadi anak yang:
1. Kuat Akidahnya.
2. Kuat Ibadahnya.
3. Kuat Syariahnya.
4. Kuat Ilmunya.
5. Kuat Badannya.

Sesi Tanya Jawab:

❓Pertanyaan:
Apa yang harus dilakukan seorang anak ketika orangtuanya bertengkar?
💬 Jawaban:
1. Jangan memilihak karena kita tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya.
2. Minta kekuatan kepada Allah, doakan orangtua dan mohonkan ampun untuk mereka.
3. Cari orang yang bijaksana dari pihak ayah dan ibu untuk menjadi penengah.
4. Jangan masuk ke masalah orangtua.

❓Pertanyaan:
Bagaimana caranya agar anggota keluarga rajin sholat?
💬Jawaban:
1. Didoakan agar Allah bukakan pintu hati mereka untuk sholat.
2. Diberi contoh (dulu ibu saya selalu bangunin saya kalo mau sholat subuh, dan ibu saya selalu dalam keadaan sudah memakai mukena, sudah selesai shalat malam dan tilawah juga).

❓Pertanyaan:
Bagaimana caranya untuk tahu dia adalah jodoh kita?
💬Jawaban:
1. Hati merasa mantap.
2. Tanya ke orangtua.
3. Sholat istikharah.

❓Pertanyaan:
Bagaimana mendidik anak agar berani?
💬Jawaban:
1. Mengenalkan Identitas kelamin.
2. Berikan tempat bermain yang baik.
3. Terapkan surat Luqman ayat 12-19.
4. Jangan sampai anak tersebut syirik.
5. Ajarkan Birrul Walidain.
6. Ajarkan Muraqabatullah.
7. Sholat.
8. Beramar ma'ruf, nahi munkar.
9. Bersabar
10. Tanamkan akhlak komunikasi, akhlak ekspresi, akhlak gerak tubuh.
11. Tanamkan mental jihad.

Wallahu 'alam.
Mohon maaf apabila ada kekurangan.
@dwihandafirdaus
posted from Bloggeroid
Share:

Sabtu, 05 November 2016

Jika kamu adalah dia



Ini adalah sepenggal kisah seorang temanku, di mana ia besar tanpa seorang ibu. Ibunya meninggal lebih dulu tanpa ia pernah tahu bagaimana rupanya, bagaimana suaranya, ia tak mendapatkan apa yang anak-anak lain dapatkan: perhatian.

Apa rasanya hidup tanpa seorang ibu? Aku tak bisa menjawab, karena aku belum pernah merasakannya. Mungkin temanku ini yang tahu bagaimana rasanya, dari ceritanya aku tahu sedikit apa yang ia rasakan, meski tak kan bisa rasakan sepenuhnya, tentang kesepian dan rindu yang mendalam.

Tak terbayangkan bagaimana lelahnya seorang ayah, yang mau tak mau harus melipatkandakan tugasnya: mengurus anak dan mencari nafkah. Betapa tangguh seorang ayah yang bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus, sesuatu yang ia jalani demi dua orang yang dicintainya: anak dan istrinya yang telah tiada.

Kini ia telah dewasa, tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu yang berada di dalam raga ayahnya. Fisiknya kuat seperti ayahnya yang seorang tentara, hati dan tutur katanya lembut, layaknya seorang ibu yang penuh perhatian.

Meski tanpa seorang ibu, sang ayah selalu menanamkan nilai-nilai yang baik di dalam dirinya, dan aku bisa melihat itu. Hanya saja, ia tak dapat memungkiri bahwa ayah tetaplah ayah, tak kan pernah menjadi seorang ibu.

Aku tak sanggup melanjutkan cerita ini, begitu haru, entah bagaimana rasanya seandainya aku yang mengalaminya. Satu hal, aku bersyukur kepada Allah atas seorang ibu yang masih bisa aku lihat hingga kini. Meski Allah lebih mencintai ayahku untuk berada di sisi-Nya terlebih dahulu.

Dari kisah ini aku ingin mengajak kalian untuk bersyukur tentang nikmat Allah berupa umur panjang untuk orangtua kita. Orangtua yang mungkin seringkali kita lupakan, dan lebih memilih bersama teman-teman atau gadget kita.

Apakah benar, kita akan mengerti arti seseorang ketika kita sudah kehilangan? Semoga aku dan kamu bukan termasuk orang-orang yang menyesal dikemudian hari karena kehilangan kesempatan membuka satu pintu surga.

Jakarta, 05 November 2016
@dwihandafirdaus

posted from Bloggeroid

Share: