Minggu, 31 Januari 2016

Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya

Ust. Hasan Al Jaizy

Dari sekian majelis yang pernah saya belajar di dalamnya, saya melihat perempuan lebih rajin mencatat. Kebalikan dari laki-laki. Malas mencatat. Tapi tidak jarang saya dapatkan laki-laki malah lebih bagus jawabannya dibandingkan perempuan, padahal tidak mencatat. Apa yang bisa dipelajari dari sini? Yang bisa dipelajari adalah:

Bahwa laki-laki lebih menguasai hal-hal global daripada perempuan.
Bahwa perempuan lebih menguasai hal-hal rinci daripada laki-laki.

Makanya, pemetaan pikiran laki-laki biasanya lebih global, simple, meluas dan tepat dibandingkan perempuan yang kadang pemetaan pikirannya lebih fokus ke furu' mufashshalah (cabang-cabang rinci) yang bahkan kadang menurut laki-laki ga penting sama sekali. Contoh:

Laki-laki kalau mau safar, modal dengkul juga jadi. Simple. Tapi perempuan? Jangan harap cuma modal pakaian. Perempuan lebih berfikir ke furu', sampai minyak kayu putih, bahkan sampai memikirkan jarum. Kayak mau nyantet orang aja.

Laki-laki kalau mau ke kajian, atau ke mall, atau ke pasar, atau ke kantor, tidak begitu memikirkan kosmetik. Asal baju rapih dan matching, selesai. Jangan tanya perempuan tentang mereka saat mau pergi ke sana.

Laki-laki saat di kajian, mendengarkan ustadznya, sambil menata mind-mapping global. Rincinya tidak penting-penting amat. Ego dan rasa 'keperkasaan' mereka akan berkata, 'Ah, gue juga bisa mikirin rincinya sendiri tanpa di-talqin'. Beda sama perempuan, mendengarkan ustadznya, sambil banyak mencatat. Sehalaman, dua halaman, sampai banyak. Setelah itu ya sudah. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'. Dan mereka yang menguasai ushul, lebih layak jadi pemimpin daripada yang lebih dominan penguasaan furu'. Iya. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Tapi kecenya, kalau laki-laki ternyata yang kalah, mereka akan beralasan, 'Ya wajar lah, wong akhwat pada nyatet, saya nggak.'

Ga wajar, mas. Antum cuma jiping (ngaji kuping), jihadnya di telinga doang. Beda sama akhwat-akhwat itu, mereka jihadnya di kuping, tangan dan hati. Jihad di kuping? Ya dengerin. Jihad di tangan? Ya mencatat. Jihad di hati? Ya menahan perasaan supaya ga suka sama ustadznya. (emoticon merem lalu ada setetes keringat di pojok kepala sebelah kiri)

Laki-laki itu exist di pertama. Dia bisa berfoya dengan kemegahan. Tapi semegah-megahnya bujang dan jomblo, kalau belum beristri, maka kemegahannya ghayru mu'tabar (ga teranggap). Malah dunia akan tertawa kalau seorang bujang sudah mapan tapi belum mau beristri. Mencari ilmu pun tidak. Ini abnormal. Perlu dipertanyakan dosis kelelakiannya. Coba tengok kisah Nabi Adam.

Nabi Adam alaihissalam, awalnya tinggalnya di surga. SURGA! SURGA! Apa sih yang ga enak di Surga? Enak semua, bro! Apa-apa azek. Tapi semegah-megahnya taraf hidup beliau di Surga, tetap saja beliau suatu kala merasa murung. Ada yang kurang. Ada fitrah yang belum dilengkapi. Ada relung jiwa yang belum diisi. Perempuan. Ah, itu dia. Hidup laki-laki sehebat apapun tetap saja dependant pada makhluk halus bernama 'perempuan'. Maka, Allah berikan pasangan buat Nabi Adam. Seneng....

Tapi memang sudah lazimnya. Ujian mesti ada. Susah seneng tetap saja ada ujiannya. Nabi Adam meminta perempuan, namun kemudian dengannyalah beliau terjatuh. Ke bumi. Ke dasar. Cobaannya ada.

Makanya, jangan mengira after-marriage itu ketemunya Surga doang. Salah besar. Ujiannya banyak. Kegalauannya malah lebih banyak, lebih rutin dan lebih tinggi intensitasnya dibandingkan kegalauan bujang. Tapi tentu saja penyembuhnya lebih available dibandingkan buat bujang. Semua itu kalau di-manage sesuai syariah, bakal berpahala besar.

Dan dari semua kegalauan, baik sektor ekonomi, sosial, dan psikologi, ternyata laki-laki sangat matching untuk menghadapinya bersama perempuan. Tidak bisa satu doang. Harus berdua. Kenapa? Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'.

Dari sektor ekonomi, laki-laki lebih mampu mencari uang banyak dan memang keharusannya mencari nafkah. Pas awal bulan (bagi orang kantoran), seluruh atau sebagian uang di-manage istri. Ada nafkah khusus buat istri, ada juga dana umum. Istri, yang lebih suka masalah furu', bakal lebih mampu handle ini. Really. Kalau laki-laki yang handle beginian, istri bisa terzhalimi. Rumah tangga bisa rapuh. Sudahlah, biar ditangani istri. Nanti pas belanja bulanan, di market istri cari semua barang di semua rak, suami cuma cari satu: bangku. Hehe.

Dari sektor sosial, laki-laki tidak begitu suka kepoin orang secara detail. Beda bingits sama perempuan. Makanya, tensi ghibah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Makanya juga, anak-anak ngaji yang lebih suka ngomongin fulan dan fulan, itu lebih layak digelari 'banci mengaji' dibandingkan anak ngaji. Mirip perempuan. Makanya gan, jangan mengetahui personal seseorang secara detail, karena pengetahuan tersebut bakal mendorong untuk berghibah. Kecuali personal Rasulullah. Itu lain lagi. Baiklah. Kemudian, istri lebih bisa dijadikan senjata untuk urusan-urusan sosial. Arisan, rukun tetangga, musyawarah di gerobak sayur sambil acak-acak barang dagangan, kajian-kajian kampung dan pesta pernikahan. Itu semua girly (baca: emak-emak) banget. Tentu saja aneh jika arisan hanya dikuasai laki-laki, lalu para bapak-bapak ngegosip di gerobak sayur. Ga pantes. Makanya, kalau mau siarkan nikah di kampungmu, tidak usah repot-repot buat kertas undangan. Irit aja. Itu buat orang jauh aja. Untuk sekelurahan, cukup bicara sama nenek-nenek atau emak-emak "Saya mau nikah sama "namalengkap(spasi)tanggal(spasi)dimana(spasi)kokbisaya?""

Dari sektor psikologi: laki-laki dengan keperkasaannya akan rapuh tanpa perempuan, dan bisa mudah rapuh karena perempuan. Perempuan dengan kelembutannya bisa menjadi pejuang gigih karena laki-laki. Berjuang sabar, tekun, baik-baik dan...

Semua akan cie cie pada waktunya...

Siapapun dari sesiapa punya harapan tentang siapa, namun siap-siaplah. Jangan sampai hanya berharap tanpa bekal dan perjuangan. Semakin besar perjuanganmu dan kesabaranmu, menunjukkan semakin kamu menghargai harapanmu sendiri dan menghargai dia yang kamu harapkan. Iya, menghargai dia, yang kamu harapkan. Barangsiapa yang menghargai, ia akan dihargai.

Tetaplah kamu laki-laki menjadi pemimpin
Tetaplah kamu perempuan menjadi sandaran pemimpin

Saat kamu datang ke kondangan "fulan vs fulanah", mereka akan bertanya 'kapan kamu nyusul'. Sakitnya tuh di sana sini. 
Pas ngobrol asik-asik sama temen-temen, mulai ada yang membahas topik begitu, 'kamu kapan?' Sakitnya tuh di perasaan.
Lihat pasangan gandengan enak banget. Lalu, karena ga ada yang bertanya, malah diri sendiri yang bertanya, 'saya kapan?' Sakitnya udah ga pake perasaan.

Kalau mengingat pertanyaan 'kamu kapan?' 'kamu kapan?' 'kamu kapan?', rasanya sendi-sendi begitu sakit. Memang, sendi-sendi biasanya sakit karena sendirian.

Tapi percayalah, (emoticon senyum), kamu ga usah banyak kirim biodata, cukup perbaiki diri, kirim proposal kepada Allah setiap selesai shalat dan setiap 1/3 malam terakhir, jaga diri, pantaskan diri dan tawakkal, maka:

"Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya"

Share:

Minggu, 03 Januari 2016

Kamu Yang Aku Rindu

Mungkin aku terlalu erat menggenggammu

Layaknya sekumpulan pasir yang digenggam oleh tangan, semakin erat digenggam, pasir itu justru semakin berjatuhan ke luar dari sela-sela jari, hingga habis tak tersisa. Tapi jika kita genggam biasa saja, pasir itu justru tetap utuh berada di tangan.

Seharusnya aku sadari,
Bahwa akan tiba suatu masa di mana aku dan kamu akan pergi ke arah yang berlawanan. Menuju sebuah angan bersama pengharapan akan masa depan.

Seharusnya aku sadari,
Bahwa kamu tak selamanya ada di sisi, menemani, menghadirkan tawa, dan bahkan untuk sekadar menghapus luka.

Entah untuk berapa lama kita harus terpisah, rasanya tiap detik yang bergulir hanya menambah rasa rindu yang aku sendiri tak bisa menjelaskannya.

Di saat malam menyapa, di saat itu pula aku berharap kamu pulang.
Di saat malam mulai tergantikan, ku berharap jarak aku dan kamu hanya sejauh tatapan.
27 Desember 2015
-Dwihanda Firdaus

Share:

Inspirator Muda

Karena kuantitas tak menentukan kualitas.

Sedikit pemuda pemberi solusi lebih baik dari banyak pemuda pencaci.

Negeri ini tak akan berubah jika kita hanya berkomentar tanpa tindakan nyata.

Jangan menilai suatu usaha kecil akan percuma, karena itu lebih baik daripada berdiam diri saja.

Bagaimana bisa kita menikmati kemudahan tanpa sebuah usaha. Tidak malukah kita menertawakan ketidakberdayaan?

Kelak, masa muda ini akan dipertanyakan untuk apa ia dihabiskan.

Jika sampai saat ini kita tak melakukan perubahan, lalu apa yang akan kita katakan kepada Tuhan sebagai jawaban?

Tak ada kata terlambat, karena sesungguhnya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Jangan bingung, jangan minder, jangan merasa ga punya bakat apa-apa. Karena Allah telah memberikan setiap manusia kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita melangkah bersama, saling melengkapi satu sama lain.

Jika negeri ini punya banyak masalah besar, maka kitapun harus berani bermimpi besar untuk bisa memperbaikinya. "Ah mana mungkin...kita mah apa atuh." Itu adalah jawaban orang-orang yang tak percaya diri. Orang-orang seperti itu bakalan jauh dari kesuksesan. Wong belum nyoba udah pesimis.

Ingat AYGM (Apa Yang Gak Mungkin) bagi Allah?

Mimpi itu terasa sangat dekat bagi mereka yang percaya. Bermimpi, usaha yang diringi doa, maka biarlah Allah tentukan hasilnya.

Karena berjamaah lebih baik daripada sendirian. Yuk melangkah bersama untuk
#MenginspirasiIndonesia😊

Dari seseorang yang menyayangimu karena Allah,
Dwihanda Firdaus

Share:

Senin, 16 November 2015

Tertawan



Aku tertawan
Oleh sang hujan
Yang membuatku tak berkutik
Dan memaksaku untuk menghentikan langkah sejenak

Aku tak bisa menerjang hujan
Aku tak siap untuk basah kuyup karenanya
Tak ada yang dapat aku lakukan
Tak ada pilihan
Selain menunggumu lenyap dari pandangan

Aku tertawan
Kali ini bukan karena sang hujan
Tapi karena kamu
Yang datang seperti hujan
Tiba-tiba menawan
Membuatku berangan

Kuperlakukanmu seperti hujan
Hanya kupandangi
Tanpa berani ku larut di dalamnya
Dan tak punya nyali untuk berjalan beriringan

Aku takut kamu seperti hujan
Yang bisa datang dan pergi sesukanya
Sesaat membawa keindahan
Pelangi yang menghias awan

Aku tak ingin sakit karena hujan
Begitu pun dengan hadirnya dirimu
Aku tak ingin ada jejak ketidakpastian

Cepatlah berlalu
Jika kau datang hanya untuk menawanku dalam sekat yang kasat mata
Share:

Minggu, 08 November 2015

Gambar Yang Tak Sengaja Diabadikan






Lihatlah wahai saudariku...

🍃Di saat kita memiliki tujuan yang sama,
Maka kita akan menuju jalan yang sama,
Secara BERSAMA-SAMA pula.

🍃Di dalam perjalanan menuju tujuan kita, tak ada yang bisa menjamin bagaimana keadaan jalur yang akan kita lewati, entah itu lurus saja, berkelok, terjal, berlubang, dan lain-lain.

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan lurus dan berlubang, kita berjalan berdampingan, bergandengan tangan, sehingga kau dapat merasakan aman, dan kau merasa tak sendirian...

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan menanjak dan terjal, kita pun bersama, ada yang berada di depanmu, untuk menarikmu ketika kau ingin terjatuh, ada yang berada di belakangmu, untuk mendorongmu ketika kau mulai lelah, ada yang mengulurkan tangannya untuk mengajakmu kembali ketika kamu ingin menyerah.

Lihatlah wahai saudariku...
Begitu sederhananya kita, tapi sarat akan makna.

Tetaplah di sini...
Bersamaku,
Kita lalui jalan dakwah ini bersama,
Sesakit apapun itu...
Aku tak ingin ada yang tertinggal,
Aku tak ingin ada yang kalah,
Aku tak ingin ada yang menyerah,
Aku ingin kita tetap bersama dan utuh,
Sampai pada tujuan kita,
Dan sampai kita bertemu di surga-Nya nanti.

Aku menyayangi kalian karena Allah...
Share:

Selasa, 03 November 2015

Andai Mereka Bisa Memilih

Ketika langit menjadi atap
Ketika tanah menjadi alas
Ketika pagi menjadi lumbung rezeki
Ketika malam menjadi pengumpul asa
Ada sakit yang terpendam
Ada tawa yang kadang terlepas
Ada rindu yang menyayat
Ada takut yang menyergap
Adakah yang berani menanggung rasa sakit itu?
Adakah yang bisa membuatnya selalu tersenyum lepas?
Adakah yang mampu mengobati kerinduan yang tertahan?
Adakah yang mau menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja?
Andai mereka bisa memilih,
Untuk tidak berada di jalan
Andai mereka memilih,
Untuk tinggal di rumah megah
Andai mereka bisa memilih,
Untuk berada di dalam rasa aman
"Apakah mereka menyadari keberadaanku?"
"Apakah mereka peduli denganku?"
"Apakah mereka mau berbagi sedikit kebahagiaan untukku?"
"Jika sepatu kecil bertali terlalu mewah untukku, maka cukuplah sandal sebagai pelindung kakiku dari panasnya matahari."
"Jika jaket tebal terlalu mahal untukku, maka cukuplah sebuah sarung kecil sebagai temanku di kala hujan turun."
"Jika uang seratus ribu terlalu banyak untukku, maka cukuplah dua bungkus nasi untukku makan bersama ibu."
"Jika itu semua terasa sulit bagimu, maka cukuplah doa yang kau panjatkan untukku."

Masihkah kamu mengeluh?
Masihkah hatimu tak tergerak?
Jika mereka bisa memilih, maka mereka akan memilih untuk menjadi KAMU!
Share:

Kamis, 29 Oktober 2015

Cita-cita

"Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
-Ir. Soekarno

Mimpi...
Sangat erat kaitannya dengan cita-cita.
Hanya berbeda pada ruang lingkupnya saja, selama ini jika saya berbicara mengenai mimpi, pasti banyak pembahasannya, karena ruang lingkup mimpi itu global, kita bebas bermimpi apa saja, dalam hal apa saja, tidak akan ada yang melarang.

Jika bicara cita-cita, maka pembahasannya lebih spesifik, lebih kepada sesuatu yang akan kita jalani atau sama saja dengan "Kita di masa depan"

Saya termasuk orang yang berkeingintahuan besar, ya beda tipis sama kepo (anak zaman sekarang bilangnya begitu)
Saya suka bertanya kepada teman-teman saya tentang cita-cita mereka, berbagai macam jawaban saya dapatkan, mulai dari jadi polisi, tentara, ahli farmasi, pemain bola terkenal, teknisi pesawat, dan lain-lain.

Lalu saya mendapatkan cita-cita dengan jawaban terbanyak. Mau tahu apa cita-cita itu? Cita-cita itu adalah menjadi seorang GURU.
Rasa ingin tahu saya semakin besar, mulailah saya bertanya kembali kepada teman-teman saya yang ingin menjadi guru. Apa yang saya tanyakan? Ya, saya bertanya 'alasan' mereka mengapa mereka ingin menjadi guru. Karena bagi saya, setiap cita-cita yang ingin dicapai itu harus memiliki alasan yang kuat menyertainya. Alasan itu untuk apa? Untuk mengingatkan kembali tentang mengapa kita harus berusaha mewujudkan cita-cita itu, menjadi penyemangat ketika tekad mulai luntur, menjadi penarik ketika kita ingin keluar dari jalur perjuangan menuju cita-cita.

Mulailah saya bertanya kepada teman-teman saya, dan jawaban mereka pun beragam, bahkan ada yang membuat saya tersenyum sendiri...

Pertanyaan:
✋🏻Mengapa kamu ingin menjadi guru?

Jawaban
📣Si A: Karena saya suka dengan anak-anak.
📣Si B: Karena saya suka ngajar gitu, suka ngomong di depan orang juga.
📣Si C: Jadi guru enak, pulangnya gak terlalu sore hehe.
📣Si D: Salah satu cara awet muda hehe, kan ketemunya dengan yang lebih muda terus, otomatis semangatnya juga membara.
📣Si E: Gak pusing, karena gak selalu ngadepin komputer, enak pokoknya.
📣Si F: Kalau udah jadi PNS enak, gajinya banyak, terus mau kredit rumah juga gampang.
📣Si G: Kemungkinan di pecat/di PHK nya kecil, kan kalo kita gak bikin kasus, kita pensiun umur 65. Jadi bisa tenang kerjanya, beda sama yang kerja kontrak, ntar udah enak-enak kerja, tau-tau di PHK.

Banyak kan jawabannya? Hehe😊

Nah, saking saya suka kepoin orang (kepoinnya yang baik dan bermanfaat ya)
Akhirnya saya dikepoin balik sama salah satu teman saya, dia nanya gini: "Kalau kamu cita-citanya jadi apa?dan alasannya apa?

Skakmat!
Mau tidak mau saya harus jawab pertanyaannya....
Oke saya pun menjawab:

"Saya mau jadi seorang guru, karena ini....."
👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ
ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻭَﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﻭَﻟَﺪٍ
ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ
“Jika seseorang meninggal dunia,
maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara yaitu: sedekah
jariyah, ilmu yang dimanfaatkan,
atau do’a anak yang sholeh” (HR.
Muslim no. 1631)

Jika saya menjadi seorang guru, saya memberikan ilmu kepada murid saya, dan murid saya mengamalkan, dan murid saya mengajarkan lagi kepada orang lain, hingga ilmu itu bermanfaat, maka pahala akan terus mengalir meskipun raga dan ruh saya telah berpisah.

Saya ingin mempunyai bekal untuk akhirat nanti, dan saya ingin mempersiapkannya dari sekarang. Menyenangkan bukan? Mempunyai cita-cita yang jika kau menjalaninya dengan baik maka dapat mengalirkan pahala terus-menerus?

Dalam hidup, kita boleh mempunyai berbagai alasan tentang dunia, tapi pada hakikatnya itu hanya sementara, di akhirat kita akan kekal, maka sertakanlah alasan akhiratmu di setiap langkah, agar waktu yang kamu punya selama di dunia tidak berbuah kesia-siaan belaka.

Di dalam hidup ini, kamu tak bisa berkata: "Hidup mengalir aja kayak air."
Tapi tahukan kamu bahwa air selalu menuju ke tempat yang lebih rendah?

Dan janganlah berkata: "Rencana hidup?liat aja nanti."
Hari gini kamu gak punya rencana hidup? Ingat, sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik saja bisa mengalami kegagalan, lalu bagaimana yang tidak direncanakan sama sekali?

Pilih cita-citamu segera, rencanakan bagaimana hidupmu, bawa semua mimpi-mimpimu kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan biarlah Allah membimbingmu dalam mewujudkannya.

Semoga Bermanfaat😊

Ukhtukum,

Dwihanda Firdaus

Share:

Rabu, 28 Oktober 2015

Sebuah Teladan Nyata

KETIKA KAMU MENGUTAMAKAN ALLAH, MAKA LIHATLAH APA YANG ALLAH PERBUAT UNTUK HIDUPMU...

Hari ini cukup melelahkan, hingga membuat aku tertidur sejenak di dalam busway yang akan membawaku menuju halte transit seperti biasanya. Bapak penjaga pintu sudah siap siaga memberitahukan bahwa sebentar lagi busway akan sampai di halte transit, yaitu halte dukuh atas dua. Aku pun bergegas bangun dari tempat dudukku dan mempersiapkan diri untuk turun. Pintu busway pun terbuka, ku langkahkan keluar kaki kanan terlebih dahulu, disusul kaki kiri tak berapa lama.
Dengan langkah gontai aku menyusuri jembatan untuk berpindah halte. Di sepanjang jembatan aku melihat ke bawah banyak mobil yang berjejer rapi karena terjebak macet, riuh suara klakson kendaraan yang saling bersautan tak dapat dibendung, seakan mewakili suara sang pengemudi bahwa ingin segera sampai ke rumah. Terlepas dari kebisingan itu, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang bapak yang berada di sudut jembatan, yang saat aku melihatnya beliau sedang bersujud. Tepatnya bapak itu sedang sholat! Beliau letakkan tas kulitnya di dekat kepala, dan hanya beralaskan selembar koran yang beliau jadikan sebagai sajadah.

Aku tetap berjalan melewati bapak yang sedang sholat itu, hatiku bergumam "Masyaa Allah! Orang seperti apa yang sholat di jembatan seperti ini, pasti bukanlah orang sembarangan."
Kakiku terus melaju, tapi fikiranku masih tertinggal bersama seorang bapak yang sedang sholat di sana, berulang kali aku menoleh ke belakang, berharap aku bisa menyapa dan berbicara dengan bapak itu.

Allah punya rencana, antrean manusia yang ingin transit mengular hingga ke atas  jembatan, mau tidak mau aku harus hentikan langkahku dan masuk ke dalam barisan. Pandanganku lurus ke depan, berharap antrean ini segera maju dengan cepat, ku coba melihat layar handphoneku yang menyala, dan spontan aku melihat ke belakang, jreeenggg!!! Tepat di belakangku seorang bapak yang tadi sedang sholat di sudut jembatan, tidak ku sia-sia kan kesempatan ini, untuk memenuhi hasratku yang sedari tadi ingin menyapa beliau, langsung saja aku membuka percakapan...

"Tadi habis sholat isya pak? Kok sholat di jembatan gitu?"
"Iya de, ya namanya sudah adzan, harus segera sholat."
"Bapak wudhu di mana?"
"Saya sudah wudhu di kantor tadi, kalau sudah ada wudhu, mau sholat di manapun jadi, waktu saya sekolah di Amerika, dan ketika saya mau sholat, teman-teman saya yang non muslim yang tadinya duduk di bangku langsung mempersilahkan saya memakai bangkunya untuk dijadikan tempat sholat, karena kalau di lantai kotor."

Betapa senangnya aku bisa berbicara dengan beliau, aku terkagum dengan perkataannya tentang sholat tadi. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, semenjak bapak itu mengatakan Amerika, percakapan kami pun melebar...
Alhamdulillah antrean sedikit demi sedikit mulai melaju, sambil berjalan pelan, aku pun bertanya kembali...

"Amerika?S2 di sana? Memang dulu bapak S1 nya di mana?"
"Iya, saya S2 di sana, dulu saya S1 nya di FKUI."

Masyaa Allah, aku kembali mengucap kalimat itu dalam hati...
Ternyata bapak itu seorang dokter...
Tak berhenti di situ, aku dengan rasa penasaran yang tinggi pun bertanya kembali...

"Kalau di sana gimana cara tahu jadwal sholatnya pak?"
"Ya ada, misalnya subuh, subuh di sana itu jam 9 pagi, maghribnya jam 4 sore, jadi sudah tau."
"Oh gitu ya pak, bapak kuliah di Amerika beasiswa apa biaya sendiri?"
"Alhamdulillah, biaya sendiri..."
"Bapak kuliah Amerika apa itu cita-cita bapak?"
"Yaaa, banyak. cita-cita saya juga, keluarga juga, saya di Amerika 20 tahun, di Malaysia 6 tahun, di Australia 11 bulan."
"Hah? 20 tahun? Kalau begitu berarti bapak lulus S1 nya tahun berapa? Di 3 negara itu kuliah semua pak?"
"Saya lulus S1 tahun 1975, tidak semuanya untuk kuliah, jadi setelah lulus S1 saya mengajar di Malaysia, lalu ke Australia, baru saya kuliah S2 di Amerika."

Masyaa Allah, cerita bapak itu benar-benar menggetarkan hati saya, rasanya ingin menangis. Beliau tidak terlihat tua, wajahnya bersahaja, begitu pun cara bicaranya, kami terus berjalan pelan hingga sampai di pintu tempat kami transit, kebetulan kami menuju ke arah yang sama. Sejauh perbincangan kami, aku tidak menanyakan siapa namanya, dan kemana beliau akan pulang. Sambil menunggu busway kami datang, aku pun bertanya kembali...

"Jadi sekarang bapak ngajar aja di sini?"
"Iya, hmm...saya kasihan dengan dengan saudara-saudara kita yang di palestina sana, mereka membela kita, tapi sementara kita di sini tidak melakukan apa-apa, rata-rata yang meninggal di sana itu para hafidzh quran, di sana tak ada pengemis, walaupun mereka susah, tapi tidak mengemis, anak saya akan berangkat ke gaza dalam waktu dekat, dia dokter seperti saya, dia akan menjadi relawan di sana."
"Pak, kalau boleh tahu, apa sih rahasianya sampai bapak bisa seperti ini? Menjadi dokter lulusan universitas ternama dan melanjutkan kuliah luar negeri dengan biaya sendiri, bisa mengajar di luar negeri, anak bapak juga seorang dokter. Apa ada amalan-amalan khusus yang bapak kerjakan?"
"Tidak, kalau saya, dari dulu, pokoknya kalau sudah adzan saya langsung sholat, gak pake nunda. Mau di manapun."
"Oh jadi sholat tepat waktu ya pak?"
"Iya." Jawab bapak tersebut sambil tersenyum.

Masih banyak percakapan kami, tentang kondisi negara ini, tentang pemimpinnya dan lain-lain...

Tak terasa busway sudah tiba, kami dan penumpang lainnya saling berdesakan untuk masuk, bapak dokter itu berada di depanku, aku terjepit, di dalam hati aku berdoa: "Ya Allah, semoga aku tidak ketinggalan busway ini, aku masih ingin bicara dengan bapak tadi."

Alhamdulillah, aku dan bapak tersebut masih dalam satu busway, beliau di belakang daan aku di depan.
Busway pun melaju, mataku masih tertuju pada bapak itu, aku masih ingin bicara, masih ingin tahu...
Aku lupa menanyakan di mana bapak itu akan turun, aku benar-benar lupa...
Aku perhatikan terus bapak itu, berharap dia tidak turun terlebih dahulu, badannya yang tak terlalu tinggi mulai tertutup oleh penumpang lain, hingga aku hanya bisa melihat tangannya yang memegang tiang pegangan. Aku semakin gelisah, setiap busway berhenti di halte, aku selalu melihat keluar, apakah bapak itu sudah turun atau belum...
Alhamdulillah, bapak itu masih ada. Hingga busway berhenti di halte manggarai, akhirnya aku memberanikan diri menghampiri bapak itu, posisiku terjarak oleh dua orang penumpang lain, di padatnya penumpang dan berisiknya klakson kendaraan, aku pun bertanya kepada bapak itu:
"Pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?"
"
Lalu aku bergegas menyiapkan papan ketik di handphoneku

"Boleh..."

Lalu bapak itu menyebutkan nomor handphonenya, sempat aku mengulang beberapa kali karena suara bapak tersebut tersamar. Dan aku tunjukkan layar handphoneku kepada beliau untuk memastikan nomor yang aku masukkan adalah benar, dan bapak itu pun mengangguk.

Pada akhirnya aku beranikan diri bertanya siapa nama bapak itu, itu pun karena aku harus mengisi nama kontak di nomor yang tadi bapak itu sebutkan...

"Nama bapak siapa?"
"Dokter Fajri"

Setelah berterima kasih aku kembali ke posisi awal yang berada di depan. Aku simpan nomor bapak tersebut dan aku coba menelepon untuk kembali memastikan bahwa itu benar nomor beliau. Dan ternyata nomornya tidak aktif, betapa bingungnya aku, jangan-jangan aku salah mendengar, kalau nomornya salah bagaimana? Posisiku sudah berada jauh dari bapak dokter itu, tak mungkin aku kembali menerobos barisan penumpang yang padat ini. Aku coba kirim ucapan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته melalui sms, tetapi smsku tidak terkirim. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Dan....AHA! Aku bergegas menyegarkan kontak whatsappku, dalam benakku, pasti seorang dokter memakai whatsapp, pada saat itu aku berharap sang dokter memasang foto profil dirinya hingga aku bisa memastikan bahwa itu benar nomor Dr. Fajri.

Setelah menunggu sejenak, aku memasukkan nama 'Dr Fajri' di kolom pencarian kontak whatsapp.
Betapa senangnya aku, ternyata ada kontak whatsappnya, dengan segera aku buka foto profilnya, dan ternyata....BENAR! Ini nomor bapak dokter tersebut, terpampang jelas foto bapak dokter dengan seorang anak muda yang aku terka dia adalah putranya yang bergelar dokter pula, dia yang akan berangkat ke Gaza. Mereka terlihat sangat mirip.

Dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan, bisa membuktikan bahwa perkataan
"Inna sirron najah fil hayat, ihsanus shilah billahi 'azza wa jalla"
(Sesungguhnya rahasia kesuksesan dalam hidup adalah berhubungan baik dengan Allah 'azza wa jalla)

Dokter Fajri telah memberi teladan, beliau mempraktekkan apa yang beliau katakan, "ketika dengar adzan, ya langsung sholat, di manapun berada."
Beliau telah berwudhu dari kantornya, agar ketika adzan terdengar, beliau langsung bisa sholat, meskipun di sudut jembatan dan hanya beralaskan koran.

Dokter Fajri telah mengutamakan Allah, maka tak heran banyak kesuksesan di dalan hidupnya, hingga kesuksesan itu juga di dapat oleh anaknya.

Semoga kita semua bisa mengikuti jejak Dokter Fajri, yang mengutamakan Allah dari yang lain...beliau taat pada Allah, hingga Allah pun menyayangi dirinya.

Semoga bermanfaat😊

Jakarta, 28 Oktober 2015
Di sepanjang jembatan halte dukuh atas satu & di dalam busway
Pukul 19.15

Dwihanda Firdaus

Share:

Senin, 12 Oktober 2015

Hadirku Tak Utuh

Entah bagaimana diri ini
Aku pun tak bisa menilainya
Baik atau buruk
Aku tak tahu

Semakin hari semakin berat rasanya
Sesuatu yang di kala ia hadir membuatku menangis tersedu-sedu
Sesuatu yang semakin banyak terucap justru menjadi setumpuk beban di pundakku

Pujian...

Jangan,
Tolong jangan berikan beban itu lagi
Aku tak sanggup menanggungnya

Apa yang kau lihat selama ini hanyalah setitik kebaikan di antara setumpuk dosaku

Dosa yang aku perbuat di masa lalu
Dosa yang bahkan aku sendiri tak dapat menghitungnya

Tahukah dirimu?
Bahwa sesungguhnya kau telah menguji diri ini
Kau ucap sesuatu yang tak ada pada diriku
Sesuatu yang kau lihat hanya di permukaan saja
Sesuatu yang sesungguhnya penuh dengan kemunafikan

Aku masih belajar
Aku masih mengais
Aku masih merangkak menuju cahaya yang selama ini kau kira aku telah bersinar karenanya

Aku ingin menjadi pelangi, meskipun pelangi di awan mendung
Aku ingin menjadi matahari, meskipun matahari di tengah rintik hujan
Aku ingin menjadi angin, meskipun angin di dalam gersang
Aku ingin menjadi lilin, meskipun lilin di gelapnya malam

Hadirku tak utuh,
Bisakah kau melihat itu?

Share:

Minggu, 11 Oktober 2015

Mari Berbagi ^_^



Aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu
Skenario seperti apa yang dibuat oleh Allah untuk para hambaNya, yang aku ketahui hanyalah...Dia pasti memberikan yang terbaik pada akhirnya, entah bagaimana jalan yang akan ditempuh menuju hal terbaik itu. Apakah jalan itu lurus-lurus saja, atau kah jalan berliku nan berkerikil.

Hidup bagaikan sebuah koin, yang mempunyai dua sisi, sebagai manusia, kita tak bisa memilih diantara keduanya, justru kita akan mendapatkan keduanya, mau tak mau, dan itu pasti.

Ada miskin, ada kaya
Ada sakit, ada sehat
Ada ramah, ada amarah
Ada cinta, ada benci
Ada susah, ada senang
Ada tangis, ada bahagia

Aku terkagum ketika Allah menjadikan kita para manusia beraneka rupa, bukan dalam konteks fisik saja
Tapi di dalam banyak aspek kehidupan.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Kita akan mengerti sebuah pelajaran yang diberikan oleh guru karena perhatian kita tertuju padanya, dan berbahagialah bagi mereka yang mendapatkan ilmu dari guru-gurunya
Tapi sadarkah kita bahwa ada yang lebih memberikan pelajaran dan ilmu yang berlebih, Tak berwujud, tak bersuara, dia adalah KEHIDUPAN
Mungkin, jika pelajaran yang diajarkan oleh guru, semua orang dapat mengetahuinya
Tapi jika pelajaran itu diajarkan oleh kehidupan, hanya orang-orang yang mempunya kepekaan tinggi yang bisa menyadarinya.


Ada orang dengan tersenyum memasuki restoran mewah, memilih apapun yang mereka suka, tanpa berpikir berapa uang yang harus mereka keluarkan.
Tapi di sisi lain, ada orang berjuang mati-matian, memikul beban berat, untuk upah yang tak seberapa bahkan untuk bisa membeli sebungkus nasi dengan lauk seadanya dan harus dibagi beberapa.


Ada orang yang fisiknya sempurna, melangkah bebas kemana-mana
Tapi di sisi lain, ada orang kekurangan fisik, jangankan untuk berkelana, untuk berjalan saja setengah mati susahnya.


Ada yang masa kecilnya bahagia, mau apa tinggal minta, semuanya serba ada, biaya sekolah tak masalah, mau jajan tinggal ambil di mama, yang jam delapan saja sudah tertidur lelap di kasur dengan seprei doraemon dan nobita
Tapi di sisi lain, ada bocah-bocah yang tak punya kesempatan sama, mau sekolah mikir biaya, mau main tapi harus bantu orang tua, mau jajan ngamen dulu di jalan raya, jangankan seprei gambar doraemon nobita, kasur saja tak punya.


Ada yang kuliah di biayai orangtua, tak usah mikir bagaimana bayar uang semesternya
Tapi di sisi lain, ada orang yang menunda mimpinya hanya untuk mengumpulkan biaya.


Beberapa contoh ini bukan karena Allah tidak adil, tidak!
Tapi Allah ingin mengajarkan kita melalui kehidupan
Bahwa segala sesuatu itu harus disyukuri, sekecil apapun nikmat yang kita miliki dan jangan lupa berbagi kepada saudara-saudari.

Karena...

"Bila yang kita yakini adalah hidup soal mendapatkan dan memiliki, maka ketidakteraturan-lah yang akan terjadi, maka berbagi adalah cara untuk menciptakan harmoni menuju masyarakat yang madani." -am_hdc



Dwihanda Firdaus
Share: