Minggu, 04 Oktober 2015

WAH ANGKER! (Angkot vs Kereta)

TEETTT…TEETTT…TEETTT!!! Bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, suara yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya terdengar  juga. Akupun segera bergegas merapihkan buku-buku dan alat tulisku. Dengan langkah penuh semangat aku menuruni tangga demi tangga, ya, karena kelasku berada di lantai 3. Setelah melewati gerbang sekolah, ternyata angkot yang akan membawaku ke rumah sudah menunggu. Aku pun menaikinya. Setelah supir angkot merasa bahwa angkotnya sudah penuh, maka sang sopirpun menjalankan armadanya. 10 menit telah berlalu, tidak terasa aku akan segera sampai di bawah jembatan tempat biasa aku turun, akupun segera mengambil uang dari saku bajuku, dan ternyata tidak kutemukan uang sepeserpun.
“Hah?! Kok uangnya tidak ada? Aduh bagaimana cara aku membayar ongkos angkotnya nih?”
Tanpa sengaja seorang remaja laki-laki yang berada di sampingku mendengar apa yang aku ucapkan tadi, lalu ia bertanya…
“Tadi aku sempat mendengar sedikit yang kamu ucapkan, uangmu hilang?”
“Ehm…tadi pas di sekolah ada kok. Mungkin terjatusaat aku terburu-buru membayar siomay yang tadi aku beli”
“Yasudah, pakai uangku saja”
“Yang benar?”
“Iya benar, tidak apa-apa kok.
“Hmm…Terimakasih ya”
Tidak terasa angkotpun sudah berhenti di jembatan tempat biasa aku turun, dan akupun segera menuruni angkot dan membayar ongkos dengan uang yang diberikan oleh remaja laki-laki tadi.
Hari sabtu yang melelahkan, pukul 7 malam aku baru selesai membuat tugas video perbandingan kebersihan di daerah Ibukota dan di daerah Depok, Jawa Barat. Setelah membeli tiket dan mengetahui kereta yang akan membawaku kembali ke Jakarta akan tiba sebentar lagi, akupun segera berlari menuju peron tempat kereta itu akan berhenti. Beruntunglah aku tiba tepat ketika kereta di berhenti di peron nomor 1. Dengan nafas yang terengah-engah akupun segera memasuki kereta itu dan meletakkan badanku di kursi yang masih kosong. Suasana tampak ramai dengan riuh-rendahnya pedagang asongan yang berlalu lalang menjajakan barang dagangannya. Karena merasa lelah, matakupun terpejam tidak lama setalah aku menaiki kereta kelas ekonomi itu. Baru beberapa menit mataku terpejam, akupun terkejut karena ada air bercampur es yang membasahi badanku, setelah aku membuka mata, terdapat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya lalu ia berkata:
“Duh, maaf ya dik, tadi anak saya menangis terus minta di belikan mainan, karena tidak saya belikan makanya dia ngambek lalu membuang es teh yang ia pegang, gara-gara anak saya baju kamu jadi basah begini deh”
“Iya tidak apa-apa bu, namanya juga anak-anak, maklum saja”
“Sekali lagi ibu minta maaf ya”
“Iya bu”
Karena kejadian ketumpahan es tadi, aku hampir lupa bahwa aku sudah sampai di stasiun yang aku tuju, Akupun segera melangkahkan kakiku keluar kereta. Ternyata kereta tersebut berhenti lumayan lama dan aku bersama penumpang lainnya harus menunggu karena jalan menuju pintu keluar terhalang oleh kereta tersebut, karena lamanya menunggu, seorang bapak pun kesal dan berkata:
“Lama sekali sih berhentinya, kan jadi tidak bisa lewat!”
Lalu pedagang asonganpun memberikan saran
“Kalau tidak mau lama, lompati saja. Masuk ke keretanya lalu keluar di pintu seberang, atau jalan saja sampai kepala kereta, lalu bapak bisa langsung sampai di peron seberang”
Karena aku merasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah, akupun terpengaruh untuk mengikuti saran dari pedagang asongan tersebut
“Hmm…kalau aku berjalan sampai kepala kereta, pasti jauh dan aku takut apalagi ini sudah larut malam, lebih baik aku lompati saja dan keluar di pintu seberang, jaraknya lebih dekat”
Dengan tekad yang bulat aku segera menaiki kereta tersebut. Karena sangat ramai, akupun berdesak-desakan menuju pintu seberang, belum sampai di pintu seberang tiba-tiba kereta itu bergerak dan berjalan perlahan dan rasa panikpun langsung menghampiriku
“Lah kok keretanya jalan?Aduh bagaimana ini? Aku bisa terbawa ke stasiun selanjutnya”
Dan penumpang yang berada di dalam kereta itu berkata:
“Lompat saja dik, mumpung keretanya masih berjalan pelan…Ayo cepat!”
Tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu, aku takut terjatuh.
Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya aku memutuskan untukberada di kereta itu sampai stasiun selanjutnya lalu menaiki angkot untukmenuju ke rumah.

Share:

GURUKU

Guruku...
Kau terbangun di kala mataharipun belum muncul
Melawan rasa kantukmu demi sebuah kewajiban
Kau mengorbankan waktu bersama keluargamu
Demi anak didikmu ini

Guruku...
Jalanmu menuju ke sekolah tidaklah mudah
Penuh halang dan rintangan
Dan apabila dinginnya udara pagi kau rasakan
Dan bila hujan deras menyentuh kulitmu
Tapi kau tak pernah hiraukan itu

Guruku...
Maafkanlah anak didikmu ini
Yang terkadang membuatmu sedih akan sikap kami
Kami yang tak menuruti perintahmu, kami yang tak menghiraukan laranganmu
Bahkan kami menganggap remeh ilmu yang kau ajarkan

Guruku...
Seandainya engkau mengetahui
Dibalik semua kenakalan kami, tersimpan rasa sayang kepadamu
Akan tetapi, sebagian dari kami tidak bisa menunjukkan itu

Wahai Guruku...
Dengan apakah kami membalas jasa-jasamu?
Dengan apakah kami membalas semua pengabdian mu?
Sungguh...tak ada hal yang dapat kami lakukan, selain berdoa kepada Tuhan, agar senantiasa memberikanmu kebahagiaan dan umur panjang

Guruku...
Kami senantiasa mengingatmu, dan semoga kau juga senantiasa mengingat kami
Share:

IBU


Ibu...
Kau mengandungku selama sembilan bulan
Merawatku dengan penuh kesabaran
Saatku dilahirkan, kau bersyukur Keagungan Tuhan

Ibu...
Dengan jerih payahmu, kau membesarkan diriku
Dengan harapan dan citamu, semua hal yang terbaik untukku

Ibu...Terimakasih.
Kau mau menghapus airmataku disaat aku menangis
Kau menenangkanku disaatku berada dalam ketakutan
Kau mengulurkan tanganmu ketika ku terjatuh, dan kau masih berada di sampingku saat yang lain menjauh

Ibu...
Kau bagaikan secercah cahaya digelapnya duniaku
Kau mengajarkan apa yang tidak ku ketahui sebelumnya
Kau membenarkan apa yang salah dalam pengertianku

Ibu...
Maafkanlah aku yang tak bisa menjadi seperti apa harapanmu
Aku yang terkadang melawan perintahmu dan tidak memperdulikan laranganmu

Ibu? Tahukah engkau?
Bahwa disetiap sejudku, ku sebut namamu
tak ada harta yang bisa menggantikan semua waktu, kasih sayang ,dan cinta yang telah kau berikan kepadaku

Ya Allah... sampaikanlah kepada ibuku..
Bahwa aku senantiasa menyayangi dan mencintainya
Walau hal itu tidak terucap dari mulutku
Share:

DIMANA RASA SYUKURKU?

Ini kejadian yang saya lihat hari jumat lalu. Ketika saya mendapat tugas untuk berkunjung ke konsultan pajak atas perusaahaan tempat saya bekerja, karena letak tempat tujuan cukup lumayan jauh dari kantor saya, seperti dari ujung ke ujung, akhirnya saya coba putuskan untuk memakai jasa ojek online, untuk menghemat waktu. Setelah memesan dan menunggu beberapa saat, ojek online tak kunjung datang, karena waktu telah menunjukkan pukul satu siang, bergegeaslah saya mencari alternatif lain, yaitu dengan menaiki bus transjakarta. Singkat cerita, sampailah saya di depan sebuah bank untuk menunggu jemputan menuju lokasi (karena saya tidak tahu persis letak kantor konsultan pajaknya). Matahari terasa sangat panas waktu itu, hingga saya melipir ke dekat pohon tak jauh dari parkiran mobil bank tersebut. Tak berselang berapa lama, tiba-tiba dari arah parkiran bank keluar dengan berlari seorang laki-laki sekitar umur 20 tahun, tinggi sekitar 165cm, tanpa beralas kaki, baju yang tak layak dan kotor, serta rambut yang nampak tak terurus sekian lama. Dia berlari sambil menggendong adiknya yang kira-kira umurnya tak beda jauh, ciri-cirinya hampir sama dengan kakaknya. Saya pun terheran dan berkata dalam hati, "Itu ngapain orang keluar dari bank, lari-lari ketakutan?apa mereka pencuri?". Dugaan itu diperkuat dengan adanya satpam yang keluar dari arah bank dan berbicara sendiri dengan menoleh ke arah laki-laki yang tadi berlari. "Eh kenapa itu lari?. Tak berselang beberapa lama, orang yang menjemput saya pun datang, ketika saya hendak menaiki motor jemputan saya, munculah mobil satpol pp dari arah lampu merah sebelah bank, tak ada hal yang terlintas dalam pikiran saya waktu itu, Setelah menaiki motor dan berjalan beberapa meter dari lokasi awal, saya melihat mobil satpol pp itu berhenti, memasuki sebuah angkot yang sedang ngetem di bahu jalan, dan memaksa dua orang yang berada di dalam angkot itu untuk keluar. Betapa terkejutnya saya kala itu, ternyata orang yang dipaksa keluar itu adalah laki-laki dan adiknya yang tadi berlari keluar dari arah parkiran bank, entah mengapa, saat itu juga air mata tak sanggup saya tahan untuk tidak terjatuh, seakan ada yang menyayat hati. Laki-laki dan adik perempuannya berteriak-teriak, saya tak tahu apa yang mereka ucapkan, perkataannya samar, tapi ada dua kata yang sedikit banyak saya dengar, mereka bilang "tidak mau..." sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan pak satpol pp yang terus memaksa mereka masuk. Entah apa kesalahan yang mereka perbuat sampai harus "diangkut" seperti itu. Saya tidak tahu persis bagaimana akhirnya, karena motor yang saya tumpangi sudah berlalu. Semakin jauh saya berlalu, semakin deras pula air mata ini mengalir, bagai tanggul yang tak dapat lagi menanggung beban air bah, hati saya tersontak,  Bagaimana jika saya ada di posisi laki-laki dan adiknya tadi? harus mencicipi panasnya matahari untuk berkeliling mencari seribu-duaribu. Bagaimana jika saya ada di posisi mereka? dengan baju yang sobek dan usang, kotor, bahkan tanpa alas kaki. Bagaimana jika saya ada di posisi mereka? yang sulit menemukan rasa aman karena selalu dihantui ketakutan akan ditangkap oleh satpol pp?
Pada hari ini, Allah telah memberikan pelajaran melalui kehidupan, contoh sederhana yang sering ada di sekeliling kita. Betapa mahal dan berharganya sebuah rasa syukur, tentang sesuatu yang kita miliki, Kita sering berucap: "Seandainya saja saya seperti dia, punya ini dan itu..." tapi pernahkan kita berucap: "Alhamdulillah, saya punya ini..." karena tanpa kita sadari, nikmat yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang diimpikan oleh orang lain. Sampai tulisan ini, saya sadar dan bersyukur, karena Allah masih menitipkan nikmat nafas untuk mengakhiri cerita ini dengan tanda titik.
Share:

TERSEMBUNYI

Wahai pagi
Terima kasih kau mau datang kembali
Menghampiri hati yang dirundung sepi
Sepi menunggu sang pujaan hati
Entah siapa yang aku tunggu
Ku tak tahu bagaimana rupanya
Tak ada imaji tentangmu di layar pikiranku
Pandanganku kabur
Seperti sekeping kaca yang diselimuti embun
Ingin ku lukis engkau di langit-langit imajinasiku
Menyisipkan sedikit kenangan dari alam mimpi
Menjadikanmu begini begitu
Menjadi figur yang aku mau
Tapi, apalah dayaku
Seindah apapun ku menerka
Sebesar apapun ku berharap
Kau masih saja setia dengan gelar 'rahasia' mu itu
Dimana kau bersembunyi?
Bagai dua anak kecil bermain umpat diri
Ku tutup mata lalu bergegas mencari
Tak jua ku temukan kau walau hingga ujung jalan bertepi
Mungkin kau sedang persiapkan diri
Dengan bekal menuju akhirat dan dunia
Lalu mengajakku pergi
Di saat yang tepat nanti
Wahai diriku
Sabarlah menanti
Iringi dengan perbaikan setiap sisi
Dengan usaha yang tiada henti
Dan tak lupa berdoa setiap hari
Karena janji Allah itu pasti
Untuk setiap insan yang berserah diri
Untuk mendapatkan cinta yang hakiki
Share:

TAKUT

Seperti badai di tengah laut
Seperti lemparan batu di tenangnya air
Kau memecah kesunyian
Yang sedari dulu aku sembunyikan
Meskipun yang kau bawa adalah fitrah
Tapi jika salah melangkah
Tak segan membawaku ke neraka paling bawah
Akankah dirimu akan memenjarakanku di ruang semu?
Merobohkan benteng pertahanan yang sudah lama ku jaga?
Atau...
Melemparku dalam jurang ketidakpastian?
Di rumah hati
Ku tak tahu engkau siapa
Akankah jadi penghuni
Atau sekedar tamu yang kan kubiarkan pergi
Meski angin kadang menghempasku ke sana kemari
Rintik hujan membasahi tanpa kompromi
Dan sinar matahari enggan berbaik hati
Akankah dirimu jadi tiang bagi bendera yang selama ini ku kibarkan sendiri?
Share:

TIGA KATA

Ketika kau coba ketuk pintu hati
Aku bimbang seorang diri
Entah ini pertanda berarti
Atau aku yang salah mengerti
Aku menerka
Tentang apa yang aku rasakan
Tentang apa yang masih tak terdefinisi
Tentang yang membuatku tersenyum tanpa alasan
Tiga kata
Bukan tentang perasaan
Bukan pula tentang cinta
Tapi membawa satu harapan
Tak perlu penjelasan
Tentang tiga kata
Karena aku hanya punya satu kata
Sebagai jawaban
Share:

SEKAT

Kau selalu buat orang lain tersenyum
Aku pun, tak luput darimu
Tapi tahukah engkau?
Bahwa senyumku mengisyaratkan sesuatu
Sesuatu yang ku harap kau sadari
Atau untuk sekedar bertanya, "Ada apa?"

Ku baca cerita perjalanan cinta
Dan membayangkan aku dan kamu
Larut di dalamnya
Pada imajinasi belaka
Tanpa rencana
Tanpa permisi
Kau hadir
Kali ini bukan di mimpi atau anganku
Kau di sini
Di hadapanku
Menyapa dan melempar senyum
Aku terkesiap
Batinku bertanya
"Apakah ini pertanda?"

Aku dan kamu bicara
Tapi untuk satu, dua, hal yang lain
Ya, tidak untuk bicara tentang 'kita'
Kita berada pada satu ruang
Dengan sekat yang kasat mata
Jarak yang kita ciptakan sendiri
Yang membuat kita saling terdiam merindu dari kejauhan

Bisa dibilang
Kita ahli dalam membungkam kata
Dan berserah pada ketidakberdayaan
Saling menunggu dan bertanya,
Akankah aku dan kamu menjadi 'kita'?
Share:

Rabu, 30 September 2015

SENJA



Aku selalu berpikir: apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Ia hadir sejenak membawa keindahan, maka kemudian pergi meyisakan ketiadaan.
Apakah senja ada, untuk sekedar menjadi metafora--bahwa di muka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa dalam setiap kata yang hadir selalu terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa pernah kita tahu persis waktunya?
Adakah yang tahu apa ang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?
Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.
Aku tak pernah tahu pasti apa ang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.
Satu hal yang aku tahu, darinya aku belajar bahwa perpisahan sedramatis apapun ia berlangsung---tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.
Sebab itu barangkali Jalaluddin Rumi menghibur mereka yang mengalami tragedi perpisahan lewat potongan sajaknya. 'Keterpisahan ini', kata Rumi, 'hanyalah tipu daya waktu'.

-Azhar Nurun Ala-
Share:

Bullying



Seringkali kita melihat berita tentang kekerasan di televisi, misalnya perkelahian antar-pelajar, demo anarkis, orangtua yang menganiaya anaknya, TKI yang ditindas di negara tempat mereka bekerja. dan lain-lain. Tetapi sadarkah kita bahwa ada  bentuk kekerasan yang tidak bahkan jarang diberitakan di televisi?, memang tindakan ini menurut sebagian orang tidak terlalu menjurus ke kekerasan atau tingkat kekerasan itu sendiri tidak setinggi “kekerasan” yang sebenarnya. Tindakan ini disebut bullying. Bullying adalah suatu tindakan yang mengganggu orang lain, bisa secara fisik, verbal, atau emosional. Bullying sering kali terlihat sebagai perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik ataupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ”lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih berkuasa.  Pada kenyataannya, bullying tidak terbatas pada ruang lingkup tertentu, di manapun dan siapapun dapat mengalami perilaku bullying.
Perilaku bullying meliputi fisik, verbal, dan emosional. Bullying secara fisik bisa terdiri dari tindakan mendorong, mencubit, “mentoyor”, bahkan memukul orang yang dikehendaki oleh si pelaku bullying tersebut. Dalam bullying secara verbal, tindakan bullying terbagi menjadi verbal langsung dan tidak langsung. Meremehkan, mengejek, memfitnah, termasuk dalam kategori bullying verbal. Bullying verbal secara langsung, pelaku langsung mengatakan melalui lisan, sesuatu atau perkataan yang dapat memberikan efek malu, minder, kepada korban bullying. Mungkin pada metode bullying verbal langsung risiko yang didapatkan oleh pelaku lebih besar, Mengapa dikatakan lebih besar?  Karena jika pelaku mem-bullying dengan cara fisik dan verbal langsung, akan banyak saksi yang akan menjatuhkan si pelaku pada saat korban melaporkan tindak bullying tersebut. Tidak kehabisan akal, bullying pun dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu menggunakan media social, “facebook” dan “twitter” seringkali menjadi media yang banyak digunakan pelaku untuk mem-bullying. Sebagai contoh, jika ada seorang artis yang sedang “booming”, perhatian masyarakat pun tertuju pada artis tersebut, maka dapat terjadi dua kemungkinan: 1) Artis tersebut dapat membullying orang yang dikehendakinya secara tersamar melalui tweets atau statusnya yang bersifat menyindir korban. 2) Atau justru artis tersebut yang menjadi korban bullying. Bullying emosional  pada umumnya tidak secara fisik maupun secara verbal, pelaku bullying emosional cenderung menunjukkan sikap yang dapat membuat korban merasa minder ataupun tidak nyaman. Sebagai contoh ada seorang yang memiliki wajah yang agak hitam, orang yang memilik wajah putih tidak langsung mengatakan bahwa wajahnya hitam, tetapi menyinggungnya dengan sikap seperti selalu memegang wajahnya yang putih setiap berpapasan dengan korban. Itulah bentuk-bentuk bullying jika kita lihat dari sudut cara mem-bullying.
Banyak cara untuk mem-bullying, tentu saja ada macam-macam faktor yang dapat menimbulkan tindakan bullying itu sendiri. Di tingkat pendidikan, misalnya di sekolah, bullying sering muncul. Rasa senioritas yang tinggi dapat menjadi faktor terbesar yang menyebabkan adanya bullying di lingkungan sekolah. Selain rasa senioritas, terdapat beberapa factor lagi yang dapat menimbulkan adanya bullying,yaitu: Perbedaan si pintar dan si bodoh, si kaya dan si miskin, si gaul dan si kuper. Pada tingkatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya bidang bisnis dan manajemen, yang mayoritas siswanya adalah perempuan, dan laki-laki yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah perempuan. Bullying yang terjadi pada instansi ini biasanya karena ada keinginan dari siswa perempuan yang mendominasi sekolah tersebut untuk memilik hati teman lawan jenisnya. Dan begitupun sebaliknya pada instansi Sekolah Teknologi Menengah (STM) yang mayoritas siswanya laki-laki, Perilaku bullying dilakukan oleh siswa laki-laki yang mempunyai rasa ingin memiliki hati teman lawan jenisnya.
Tentunya perilaku bullying ini sangat menimbulkan dampak atau efek negatif yang besar pada korbannya, akan tetapi dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh si korban, tetapi juga oleh si pelaku, dampak tersebut berupa fisik maupun psikis. Dampak fisik pada korban  seperti luka, memar, dan merasakan sakit pada bagian tertentu, dan dampak psikisnya adalah korban merasakan cemas dan ketakutan, minder, cenderung menjauhi sekolah. Terkadang korban pun merasa marah pada dirinya sendiri karna tidak bisa melawan si pelaku bullying tersebut, dan juga sering tumbuh rasa kesal kepada orang-orang yang tidak membantunya pada saat korban mendapatkan perilaku bullying. Apabila bullying ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, maka dampaknya pun bisa lebih besar, seperti menarik diri dari pergaulan, stress, depresi, bahkan sampai tindakan bunuh diri. Yang ditakutkan adalah, jika korban terus menerus dapat perlakuan bullying, maka korban pun akan menjadi seorang pembullying. Sedangkan untuk pelaku hanya mendapatkan dampak psikis saja, pelaku akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi yang rendah terhadap frustasi.
Dengan maraknya kasus bullying, maka diperlukan juga pencegahan untuk meminimalisasi kasus bullying di Indonesia khususnya di kalangan pelajar. Untuk meminimalisasi tindakan bullying ini sangat diperlukan peran serta semua pihak, mulai dari pelaku,  korban,  guru,  sekolah,  masyarakat, dan pemerintah. Dan pencegahannya pun bukan sekedar pencegahan, akan tetapi pencegahan yang diikuti oleh strategi, agar pencegahan terhadap bullying ini pun dapat efektif dan dapat berjalan dengan sebagai mana mestinya. Pencegahan pertama diawali dengan pembentukan harga diri yang baik, jika seorang anak sudah memiliki harga diri yang baik, maka anak tersebut akan menghargai orang lain, memiliki rasa percaya diri,  optimistis, dan selalu berfikir positif,  cara selanjutnya untuk mencegah bullying adalah memperbanyak teman, dengan mempunyai banyak teman maka seseorang tidak akan menjadi target pembully-an, karena seseorang tersebut akan cenderung berkumpul dengan teman-temannya, dan cara selanjutnya adalah carilah informasi tentang bagaimana menghindari tindakan bullying, baik cara menghindari saat kita menjadi korban ataupun hanya sebagai audience dari orang yang sedang di bully, informasi di dapat bisa berasal dari internet atau tanyakan kepada guru pembimbing konseling.
Pada dasarnya perilaku bullying sangat tidak baik karena memberi dampak negatif pada pelaku maupun korban, bullying juga dapat menimbulkan perpecahan, perilaku bullying tidak mungkin dapat dihilangkan, tetapi masih bisa untuk dicegah. Memang tidak mudah jika kita hanya berbicara tanpa melakukan tindakan. Bayangkan betapa indahnya dunia ini jika seluruh manusia dapat menyayangi satu sama lain, saling melengkapi, yang pandai membantu yang kurang pandai, yang kuat membantu  yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, tanpa adanya rasa benci, saling menindas, dan rasa ingin membalaskan dendam.





Share: