Jumat, 24 Juni 2016

Petakilan

Apakah kamu termasuk orang gak bisa diem? Iya bener banget, gua termasuk anak yang petakilan. *btw do you know petakilan? Petakilan adalah satu tingkatan lebih tinggi dari gak bisa diem wkwk (menurut gua sih) *oke abaikan😳

Eitss...tapi petakilan yang kek gimana dulu nih? Petakilan naik2 ke meja pas di kelas? Atau lari2 ke kelas temen padahal jaraknya cuma 5 meter?-_- Yakali...gua kan cewe, harus anggun...*eh itu mah penyanyi wkwk
Bukan bukan, in syaa Allah petakilan gua itu adalah petakilan yang bermanfaat. Petakilan dalam artian aktif berkegiatan😁 

Dari SD, gua emang udah ga bisa diem. Mulai dari ikut lomba nyanyi, olimpiade sains, ekskul ini dan itu sampe main galasin menjadi salah satu kegiatan wajib gua di sekolah, haha.

Pas gua SMP makin menjadi jadi dah tuh, ikut lomba olimpiade IPS, ikut lomba nulis, baca puisi, jadi kang baca UUD di lomba upacara bendera tingkat DKI, ampe jadi tutor sebaya buat ngajarin temen2 gua ngaji *padahal mah gua ngaji juga gak bagus2 amat coy 😑 

Menginjak SMA, bukannya jadi kalem malah nambah petakilan, duh. Pas SMA gua ikut ROHIS dan OSIS sekolah, dua taun berturut-turut (ya karena kelas 3 udah ga boleh) nah sering dah tuh ngadain acara ini dan itu, macem macem, ampe pusing pala umi. Hehe. Segala seminar dan pelatihan juga ikut. Ikut lomba nulis, ampe lomba ceramah gua ikut juga-_- terus pernah jadi wakil sekolah buat dateng ke workshop duta damai remaja dari kemendikbud. Gak cukup sampe di situ, ada 3 komunitas diluar sekolah yang gua tercatat sebagai anggotanya. Gua kurang petakilan apa coba?😯

Nah sampe di sini pasti temen2 ada yg bertanya tanya kenapa gua se-pe-ta-ki-lan itu? Mau tau gak alasannya?
Nih dia...

1. Segala hal yang berada di luar kelas termasuk ke dalam pendidikan non formal, nah di sana, kalian bakal dapet pelajaran yang belum tentu kalian dapet di kelas, sebagai sebuah proses pengembangan diri. *gak percaya? Buktiin sendiri hehe.

2. Masa muda itu masa paling produktif. Nah jadinya sayang kalo kita kerjaannya cuma sekolah-pulang-makan-tidur. Nih ya sob, kalau kalian ngebukuiin tentang masa muda kisaran umur 15-25 tahun, itu bakal jadi puluhan buku bahkan ratusan buku. Beda saat kita ngebukuin tentang masa dikisaran umur 60-70 tahun. Padahal rentang waktunya sama2 10 tahun kan? Nah itulah hebatnya masa muda.

3. Nanti pas kita meninggal, yang bakal ditanya itu "Untuk apa masa mudamu dihabiskan?" inget ya sob, yang ditanyain masa mudanya, bukan masa tuanya hehe. Udah punya jawaban belum kalo ditanya kayak gitu hehe...

4. Pernah denger ini? "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Nah emang kita gamau jadi sebaik-baik manusia? Hehe. Kalau kita aktif, otomatis kita akan tergerak untuk berkontribusi nyata sob! Seneng gak kalo bisa bermanfaat? Wah kalo gua sih seneng banget.

5. Kalau kita aktif, otomatis kita bakalan banyak temen, banyaaaakkkkbangeeeetttt
Nah kalau punya banyak temen itu serasa punya jalan tol, mau apa apa gampang pokoknya, banyak kenalan di sana sini, tapi tetep kita harus berbagi manfaat, bukan memanfaatkan teman ya sob!

Sebenernya masih banyak alasan dan keuntungan menjadi seorang yang pe-ta-ki-lan hehe, kalau dijelasin semua kepanjangan bro, kan berabe kalo kalian semua pada minta uang berobat ke gua gara2 mata kalian sakit baca cerita ini wkwk *candadeng

Salah satu guru gua pernah bilang:
"Jangan takut capek, segala sesuatu yang telah kamu keluarkan akan kembali kepada dirimu sendiri, entah dalam bentuk apa." dan itu bener banget, gua udah buktiin sendiri.

Masih berpikir untuk menjadi 'pe-ta-ki-lan?

Yah kelamaan mikir keburu tua dah, hehe..

Ga ada unsur kesombongan atau apapun di balik cerita ini

in syaa Allah niatnya lurus untuk berbagi^^

posted from Bloggeroid

Share:

Kamis, 23 Juni 2016

KUDET

Kurang Update

Apakah kamu kudet?
Jawabannya: Iya, cenderung banget.

Kadang gua sering heran dan bertanya sama diri sendiri, "kenapa sih lu kudet banget wi?" dan sampai sekarang gua gatau jawabannya apa.

Bukti ke-kudet-an gua itu banyak banget, ampun-ampunan malah, ga percaya? Nih...
.
.
1. Tiap temen2 gua ngomongin panjang lebar tentang film luar negeri, gua ga pernah tuh ikutan, boro-boro mau ikutan cerita, wong itu film apaan aja gua gatau. Termasuk civil wars yang lagi jadi hitz ditonton sama orang2.
Terus gua taunya film apa?
Yang gua tau film mas gagah, habibie ainun, Assalamu'alaykum beijing, ya film-film kayak gitu dah pokoknya.
.
.
2. Tiap temen2 gua ngomongin artis-artis luar negeri, gua juga gapernah ikutan tuh, karena emang gatau, dari artis yang waktu itu gua denger namanya kayak ikan, nama perumahan, dll. 
Terus gua taunya artis apa?
Ya gua taunya kayak macem kak meyda sefira, kak oki setiana dewi, kak dude herlino, kak hamas syahid, ya gitu pokoknya.


3. Tiap temen2 gua ngebahas konser band atau artis luar negeri, boro-boro gua mau nonton, tau juga kagak. Band apaan, lagunya apaan, siapa yang nyanyi, kagak tau pokoknya.
Terus gua taunya apa?
Gua taunya info kajian2 kayak di QGen, di Attin, di Masjid Abu Bakar, yang kayak gitu2 gua tau plus tau siapa ustadz yang ngisi hehe.


4. Saking kudetnya gua, ampe jalan aja kagak tau, waktu itu gua mau ke kebayoran lama eh malah nyasar ke arah bandara soetta. Lah lu mau kemane? Naik pesawat?-_-
Parahnya waktu gua jadi cp acara, terus ditanyain lokasi acara, tiap itu orang nanya belok sana sini gua iya iya in aja, gua bingung karena gatau jalan. Dan kayaknya itu orang nyasar gara2 gua dah-_- *tidak boleh ditiru


5. Kocaknya lagi pas naik busway, entah kenapa gua ga apal-apal sama rute busway. Mungkin saking banyaknya kali ya. *ngeles

Waktu itu gua lagi buru2 mau ada acara di tosari cfd gitu, nah pas udah sampe halte dukuh atas 2, gua bingung mau naik ke arah kanan apa kiri ya. Dengan pedenya gua gak nanya mas atau mba buswaynya. Alhasil gua naik ke arah kiri (menuju blok m) padahal gua harusnya ke kanan (HI) gua udah santai2 yakan di busway, eh gua liatin gambar rute yang suka di tempel di atas pintu busway, terus gua mikir, "Lah halte gua ada di sebelah sana, kok ini busway jalannya makin jauh dari halte tujuan gua yak?" gua nanya ke mas masnya, dan dia bilang "kalau mau ke tosari harusnya ke sana dek." Tuh kan bener gua salah naik-_- ya akhirnya dengan muka malu mau ngumpet tapi ga ada bantal, akhirnya gua turun dan naik ke arah yang mau gua tuju.


Untuk poin nomor 1-3 itu bukan berarti gua anak yang alim yang taunya cuma yang berbau agama, ngga sama sekali. Mungkin itu cuma kebetulan😊

*jangan salah fokus dan salah sangka ya


Untuk poin nomor 4-5 itu emang kayaknya derita gua deh-_- wkwk. Just for menghibur kalian yang baca tulisan ini tapi itu real kejadian lho😥


Tapi dari cerita ini gua pengen ajak temen2 buat bersyukur, kalau temen2 lebih tau dan lebih disibukkan dengan hal yang lebih bermanfaat.


Gua pernah denger begini: kalau waktu kita ga diisi sama kebaikan, pasti bakalan diisi sama keburukan.


Nah semoga waktu kita penuh kebaikan dan kebermanfaatan ya sob!😁

posted from Bloggeroid

Share:

Universitas Kehidupan

Wahai kawan, sadarkah dirimu bahwa saat ini kamu berada di Universitas Kehidupan?
Dimana setiap hal di dalamnya selalu memberi pelajaran
Jika kamu menyadarinya
.
Pernahkah kamu menaiki kemidi putar?
Jika iya, pasti kamu merasakan saat berada di bawah, di tengah, dan di atas
Seperti itulah sebuah kehidupan
Tidak bisa kamu pinta untuk terus menjadi statis, karena hidup adalah dinamis
.
Saat kamu berada di bawah
Allah ingin ajarkan kamu untuk menjadi kuat
Allah ingin ajarkan kamu berdoa dan berusaha
Allah ingin ajarkan kamu untuk tidak iri dengan mereka yang berada di atas sana
.
Saat kamu berada di tengah
Allah ingin ajarkan kamu untuk tetap bersyukur
Allah ingin ajarkan kamu untuk tidak cepat puas
Allah ingin ajarkan kamu untuk berbagi
.
Saat kamu berada di atas
Allah ingin ajarkan kamu untuk tidak sombong
Allah ingin ajarkan kamu sebuah kebijaksanaan
Allah ingin ajarkan kamu untuk berhati-hati karena dalam sekejap kamu bisa berganti posisi
.
Pandangilah langit sejenak
Pandangi dan sertakan hatimu di sana
Lalu kau berkata, "Langit itu tinggi ya, aku tidak bisa menggapainya. Tahukah kamu bahwa di atas langit masih ada langit? Ternyata kita sangat kecil."
.
Lalu aku berkata, "Iya langit itu tinggi, aku pun tak bisa menggapainya, memang di atas langit masih ada langit, maka sungguh manusia tak pantas menyombongkan diri."
.
Kau bertanya kembali kepadaku,
"Mengapa bintang bersinar?"
"Mengapa air mengalir?"
"Mengapa dunia berputar?"
.
Maka aku menjawab,
"Lihat segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti..."

posted from Bloggeroid

Share:

Diam Adalah Cerita

Dimana letak sebuah keadilan?
Ketika keinginan untuk bicara selalu berakhir dengan bungkam.

Mereka punya tangan, untuk menutup telinga.
Jika memang tak mau mendengar.
Tapi tidak, mereka tutup mulutku.
Hingga aku tak bisa bicara, sesuatu yang pasti tak kan bisa mereka dengar.

Dimana letak sebuah keadilan?
Ketika ribuan cerita selalu berakhir dengan bisu.

Ketika semua opini berjejal dalam pikiranmu.
Hingga tak tersisa ruang jernih untuk mengetahui siapa aku sebenarnya.

Aku yang diam,
bukan berarti tak punya kata.
Aku yang diam karena ku tahu.
Bicara atau diam itu akan seperti orang yang berkaca di cermin...sama saja. Tak ada bedanya.

Tidakkah mereka sisakan sedikit jeda dari ribuan detik yang ada, untuk aku bicara?
Ataukah bagi mereka pekerjaan mendengar adalah sesuatu yang sia-sia?

Tidakkah mereka menyadari bahwa diamku adalah sebuah cerita?
Cerita bahwa aku ingin bicara tapi tak pernah dihiraukan meski hanya satu kata.

Bodoh, jika aku terus berharap mereka mau mendengar, bahkan untuk sekedar memberi izin untuk aku bicara.

Mungkin raga mereka hidup.
Tapi hati mereka telah mati.

posted from Bloggeroid

Share:

Minggu, 31 Januari 2016

Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya

Ust. Hasan Al Jaizy

Dari sekian majelis yang pernah saya belajar di dalamnya, saya melihat perempuan lebih rajin mencatat. Kebalikan dari laki-laki. Malas mencatat. Tapi tidak jarang saya dapatkan laki-laki malah lebih bagus jawabannya dibandingkan perempuan, padahal tidak mencatat. Apa yang bisa dipelajari dari sini? Yang bisa dipelajari adalah:

Bahwa laki-laki lebih menguasai hal-hal global daripada perempuan.
Bahwa perempuan lebih menguasai hal-hal rinci daripada laki-laki.

Makanya, pemetaan pikiran laki-laki biasanya lebih global, simple, meluas dan tepat dibandingkan perempuan yang kadang pemetaan pikirannya lebih fokus ke furu' mufashshalah (cabang-cabang rinci) yang bahkan kadang menurut laki-laki ga penting sama sekali. Contoh:

Laki-laki kalau mau safar, modal dengkul juga jadi. Simple. Tapi perempuan? Jangan harap cuma modal pakaian. Perempuan lebih berfikir ke furu', sampai minyak kayu putih, bahkan sampai memikirkan jarum. Kayak mau nyantet orang aja.

Laki-laki kalau mau ke kajian, atau ke mall, atau ke pasar, atau ke kantor, tidak begitu memikirkan kosmetik. Asal baju rapih dan matching, selesai. Jangan tanya perempuan tentang mereka saat mau pergi ke sana.

Laki-laki saat di kajian, mendengarkan ustadznya, sambil menata mind-mapping global. Rincinya tidak penting-penting amat. Ego dan rasa 'keperkasaan' mereka akan berkata, 'Ah, gue juga bisa mikirin rincinya sendiri tanpa di-talqin'. Beda sama perempuan, mendengarkan ustadznya, sambil banyak mencatat. Sehalaman, dua halaman, sampai banyak. Setelah itu ya sudah. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'. Dan mereka yang menguasai ushul, lebih layak jadi pemimpin daripada yang lebih dominan penguasaan furu'. Iya. Kalau diadu sama laki-laki, malah bisa kalah. Tapi kecenya, kalau laki-laki ternyata yang kalah, mereka akan beralasan, 'Ya wajar lah, wong akhwat pada nyatet, saya nggak.'

Ga wajar, mas. Antum cuma jiping (ngaji kuping), jihadnya di telinga doang. Beda sama akhwat-akhwat itu, mereka jihadnya di kuping, tangan dan hati. Jihad di kuping? Ya dengerin. Jihad di tangan? Ya mencatat. Jihad di hati? Ya menahan perasaan supaya ga suka sama ustadznya. (emoticon merem lalu ada setetes keringat di pojok kepala sebelah kiri)

Laki-laki itu exist di pertama. Dia bisa berfoya dengan kemegahan. Tapi semegah-megahnya bujang dan jomblo, kalau belum beristri, maka kemegahannya ghayru mu'tabar (ga teranggap). Malah dunia akan tertawa kalau seorang bujang sudah mapan tapi belum mau beristri. Mencari ilmu pun tidak. Ini abnormal. Perlu dipertanyakan dosis kelelakiannya. Coba tengok kisah Nabi Adam.

Nabi Adam alaihissalam, awalnya tinggalnya di surga. SURGA! SURGA! Apa sih yang ga enak di Surga? Enak semua, bro! Apa-apa azek. Tapi semegah-megahnya taraf hidup beliau di Surga, tetap saja beliau suatu kala merasa murung. Ada yang kurang. Ada fitrah yang belum dilengkapi. Ada relung jiwa yang belum diisi. Perempuan. Ah, itu dia. Hidup laki-laki sehebat apapun tetap saja dependant pada makhluk halus bernama 'perempuan'. Maka, Allah berikan pasangan buat Nabi Adam. Seneng....

Tapi memang sudah lazimnya. Ujian mesti ada. Susah seneng tetap saja ada ujiannya. Nabi Adam meminta perempuan, namun kemudian dengannyalah beliau terjatuh. Ke bumi. Ke dasar. Cobaannya ada.

Makanya, jangan mengira after-marriage itu ketemunya Surga doang. Salah besar. Ujiannya banyak. Kegalauannya malah lebih banyak, lebih rutin dan lebih tinggi intensitasnya dibandingkan kegalauan bujang. Tapi tentu saja penyembuhnya lebih available dibandingkan buat bujang. Semua itu kalau di-manage sesuai syariah, bakal berpahala besar.

Dan dari semua kegalauan, baik sektor ekonomi, sosial, dan psikologi, ternyata laki-laki sangat matching untuk menghadapinya bersama perempuan. Tidak bisa satu doang. Harus berdua. Kenapa? Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'.

Dari sektor ekonomi, laki-laki lebih mampu mencari uang banyak dan memang keharusannya mencari nafkah. Pas awal bulan (bagi orang kantoran), seluruh atau sebagian uang di-manage istri. Ada nafkah khusus buat istri, ada juga dana umum. Istri, yang lebih suka masalah furu', bakal lebih mampu handle ini. Really. Kalau laki-laki yang handle beginian, istri bisa terzhalimi. Rumah tangga bisa rapuh. Sudahlah, biar ditangani istri. Nanti pas belanja bulanan, di market istri cari semua barang di semua rak, suami cuma cari satu: bangku. Hehe.

Dari sektor sosial, laki-laki tidak begitu suka kepoin orang secara detail. Beda bingits sama perempuan. Makanya, tensi ghibah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Makanya juga, anak-anak ngaji yang lebih suka ngomongin fulan dan fulan, itu lebih layak digelari 'banci mengaji' dibandingkan anak ngaji. Mirip perempuan. Makanya gan, jangan mengetahui personal seseorang secara detail, karena pengetahuan tersebut bakal mendorong untuk berghibah. Kecuali personal Rasulullah. Itu lain lagi. Baiklah. Kemudian, istri lebih bisa dijadikan senjata untuk urusan-urusan sosial. Arisan, rukun tetangga, musyawarah di gerobak sayur sambil acak-acak barang dagangan, kajian-kajian kampung dan pesta pernikahan. Itu semua girly (baca: emak-emak) banget. Tentu saja aneh jika arisan hanya dikuasai laki-laki, lalu para bapak-bapak ngegosip di gerobak sayur. Ga pantes. Makanya, kalau mau siarkan nikah di kampungmu, tidak usah repot-repot buat kertas undangan. Irit aja. Itu buat orang jauh aja. Untuk sekelurahan, cukup bicara sama nenek-nenek atau emak-emak "Saya mau nikah sama "namalengkap(spasi)tanggal(spasi)dimana(spasi)kokbisaya?""

Dari sektor psikologi: laki-laki dengan keperkasaannya akan rapuh tanpa perempuan, dan bisa mudah rapuh karena perempuan. Perempuan dengan kelembutannya bisa menjadi pejuang gigih karena laki-laki. Berjuang sabar, tekun, baik-baik dan...

Semua akan cie cie pada waktunya...

Siapapun dari sesiapa punya harapan tentang siapa, namun siap-siaplah. Jangan sampai hanya berharap tanpa bekal dan perjuangan. Semakin besar perjuanganmu dan kesabaranmu, menunjukkan semakin kamu menghargai harapanmu sendiri dan menghargai dia yang kamu harapkan. Iya, menghargai dia, yang kamu harapkan. Barangsiapa yang menghargai, ia akan dihargai.

Tetaplah kamu laki-laki menjadi pemimpin
Tetaplah kamu perempuan menjadi sandaran pemimpin

Saat kamu datang ke kondangan "fulan vs fulanah", mereka akan bertanya 'kapan kamu nyusul'. Sakitnya tuh di sana sini. 
Pas ngobrol asik-asik sama temen-temen, mulai ada yang membahas topik begitu, 'kamu kapan?' Sakitnya tuh di perasaan.
Lihat pasangan gandengan enak banget. Lalu, karena ga ada yang bertanya, malah diri sendiri yang bertanya, 'saya kapan?' Sakitnya udah ga pake perasaan.

Kalau mengingat pertanyaan 'kamu kapan?' 'kamu kapan?' 'kamu kapan?', rasanya sendi-sendi begitu sakit. Memang, sendi-sendi biasanya sakit karena sendirian.

Tapi percayalah, (emoticon senyum), kamu ga usah banyak kirim biodata, cukup perbaiki diri, kirim proposal kepada Allah setiap selesai shalat dan setiap 1/3 malam terakhir, jaga diri, pantaskan diri dan tawakkal, maka:

"Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya"

Share:

Minggu, 03 Januari 2016

Kamu Yang Aku Rindu

Mungkin aku terlalu erat menggenggammu

Layaknya sekumpulan pasir yang digenggam oleh tangan, semakin erat digenggam, pasir itu justru semakin berjatuhan ke luar dari sela-sela jari, hingga habis tak tersisa. Tapi jika kita genggam biasa saja, pasir itu justru tetap utuh berada di tangan.

Seharusnya aku sadari,
Bahwa akan tiba suatu masa di mana aku dan kamu akan pergi ke arah yang berlawanan. Menuju sebuah angan bersama pengharapan akan masa depan.

Seharusnya aku sadari,
Bahwa kamu tak selamanya ada di sisi, menemani, menghadirkan tawa, dan bahkan untuk sekadar menghapus luka.

Entah untuk berapa lama kita harus terpisah, rasanya tiap detik yang bergulir hanya menambah rasa rindu yang aku sendiri tak bisa menjelaskannya.

Di saat malam menyapa, di saat itu pula aku berharap kamu pulang.
Di saat malam mulai tergantikan, ku berharap jarak aku dan kamu hanya sejauh tatapan.
27 Desember 2015
-Dwihanda Firdaus

Share:

Inspirator Muda

Karena kuantitas tak menentukan kualitas.

Sedikit pemuda pemberi solusi lebih baik dari banyak pemuda pencaci.

Negeri ini tak akan berubah jika kita hanya berkomentar tanpa tindakan nyata.

Jangan menilai suatu usaha kecil akan percuma, karena itu lebih baik daripada berdiam diri saja.

Bagaimana bisa kita menikmati kemudahan tanpa sebuah usaha. Tidak malukah kita menertawakan ketidakberdayaan?

Kelak, masa muda ini akan dipertanyakan untuk apa ia dihabiskan.

Jika sampai saat ini kita tak melakukan perubahan, lalu apa yang akan kita katakan kepada Tuhan sebagai jawaban?

Tak ada kata terlambat, karena sesungguhnya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Jangan bingung, jangan minder, jangan merasa ga punya bakat apa-apa. Karena Allah telah memberikan setiap manusia kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita melangkah bersama, saling melengkapi satu sama lain.

Jika negeri ini punya banyak masalah besar, maka kitapun harus berani bermimpi besar untuk bisa memperbaikinya. "Ah mana mungkin...kita mah apa atuh." Itu adalah jawaban orang-orang yang tak percaya diri. Orang-orang seperti itu bakalan jauh dari kesuksesan. Wong belum nyoba udah pesimis.

Ingat AYGM (Apa Yang Gak Mungkin) bagi Allah?

Mimpi itu terasa sangat dekat bagi mereka yang percaya. Bermimpi, usaha yang diringi doa, maka biarlah Allah tentukan hasilnya.

Karena berjamaah lebih baik daripada sendirian. Yuk melangkah bersama untuk
#MenginspirasiIndonesia😊

Dari seseorang yang menyayangimu karena Allah,
Dwihanda Firdaus

Share:

Senin, 16 November 2015

Tertawan



Aku tertawan
Oleh sang hujan
Yang membuatku tak berkutik
Dan memaksaku untuk menghentikan langkah sejenak

Aku tak bisa menerjang hujan
Aku tak siap untuk basah kuyup karenanya
Tak ada yang dapat aku lakukan
Tak ada pilihan
Selain menunggumu lenyap dari pandangan

Aku tertawan
Kali ini bukan karena sang hujan
Tapi karena kamu
Yang datang seperti hujan
Tiba-tiba menawan
Membuatku berangan

Kuperlakukanmu seperti hujan
Hanya kupandangi
Tanpa berani ku larut di dalamnya
Dan tak punya nyali untuk berjalan beriringan

Aku takut kamu seperti hujan
Yang bisa datang dan pergi sesukanya
Sesaat membawa keindahan
Pelangi yang menghias awan

Aku tak ingin sakit karena hujan
Begitu pun dengan hadirnya dirimu
Aku tak ingin ada jejak ketidakpastian

Cepatlah berlalu
Jika kau datang hanya untuk menawanku dalam sekat yang kasat mata
Share:

Minggu, 08 November 2015

Gambar Yang Tak Sengaja Diabadikan






Lihatlah wahai saudariku...

🍃Di saat kita memiliki tujuan yang sama,
Maka kita akan menuju jalan yang sama,
Secara BERSAMA-SAMA pula.

🍃Di dalam perjalanan menuju tujuan kita, tak ada yang bisa menjamin bagaimana keadaan jalur yang akan kita lewati, entah itu lurus saja, berkelok, terjal, berlubang, dan lain-lain.

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan lurus dan berlubang, kita berjalan berdampingan, bergandengan tangan, sehingga kau dapat merasakan aman, dan kau merasa tak sendirian...

🍃Tidakkah kau melihat? Di saat kita melewati jalan menanjak dan terjal, kita pun bersama, ada yang berada di depanmu, untuk menarikmu ketika kau ingin terjatuh, ada yang berada di belakangmu, untuk mendorongmu ketika kau mulai lelah, ada yang mengulurkan tangannya untuk mengajakmu kembali ketika kamu ingin menyerah.

Lihatlah wahai saudariku...
Begitu sederhananya kita, tapi sarat akan makna.

Tetaplah di sini...
Bersamaku,
Kita lalui jalan dakwah ini bersama,
Sesakit apapun itu...
Aku tak ingin ada yang tertinggal,
Aku tak ingin ada yang kalah,
Aku tak ingin ada yang menyerah,
Aku ingin kita tetap bersama dan utuh,
Sampai pada tujuan kita,
Dan sampai kita bertemu di surga-Nya nanti.

Aku menyayangi kalian karena Allah...
Share:

Selasa, 03 November 2015

Andai Mereka Bisa Memilih

Ketika langit menjadi atap
Ketika tanah menjadi alas
Ketika pagi menjadi lumbung rezeki
Ketika malam menjadi pengumpul asa
Ada sakit yang terpendam
Ada tawa yang kadang terlepas
Ada rindu yang menyayat
Ada takut yang menyergap
Adakah yang berani menanggung rasa sakit itu?
Adakah yang bisa membuatnya selalu tersenyum lepas?
Adakah yang mampu mengobati kerinduan yang tertahan?
Adakah yang mau menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja?
Andai mereka bisa memilih,
Untuk tidak berada di jalan
Andai mereka memilih,
Untuk tinggal di rumah megah
Andai mereka bisa memilih,
Untuk berada di dalam rasa aman
"Apakah mereka menyadari keberadaanku?"
"Apakah mereka peduli denganku?"
"Apakah mereka mau berbagi sedikit kebahagiaan untukku?"
"Jika sepatu kecil bertali terlalu mewah untukku, maka cukuplah sandal sebagai pelindung kakiku dari panasnya matahari."
"Jika jaket tebal terlalu mahal untukku, maka cukuplah sebuah sarung kecil sebagai temanku di kala hujan turun."
"Jika uang seratus ribu terlalu banyak untukku, maka cukuplah dua bungkus nasi untukku makan bersama ibu."
"Jika itu semua terasa sulit bagimu, maka cukuplah doa yang kau panjatkan untukku."

Masihkah kamu mengeluh?
Masihkah hatimu tak tergerak?
Jika mereka bisa memilih, maka mereka akan memilih untuk menjadi KAMU!
Share: